RSS

Mutiara Tafsir: Hidayah Taufik Dari Allah

02 Apr

Freshwater_Biome_600

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, setiap hari kita berdoa di dalam sholat kita ‘ihdinash shirathal mustaqim’ yang artinya; “Tunjukilah kami jalan yang lurus.”

Hidayah atau petunjuk itu -sebagaimana diterangkan para ulama- terbagi dua; hidayah berupa ilmu dan pemahaman dan hidayah berupa kesadaran dan taufik untuk melakukan amalan. Kedua macam hidayah ini selalu kita butuhkan.

Hidayah yang pertama bisa kita peroleh melalui perantara siapa saja, baik dari ustadz, kiyai, guru, atau teman dan orang tua kita. Adapun hidayah yang kedua adalah khusus dimiliki dan hanya bisa diberikan oleh Allah semata. Sebagaimana dalam kisah yang masyhur tentang meninggalnya paman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abu Thalib yang tidak mau mengucapkan kalimat syahadat.

Nikmat hidayah ini -baik hidayah ilmu ataupun hidayah amalan- adalah sebesar-besar nikmat, dan yang terbesar diantara keduanya adalah nikmat hidayah berupa amalan alias hidayah taufik dan kesadaran. Sehingga dengan hidayah inilah kita bisa menjalankan perintah-perintah dan menjauhi larangan-larangan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Beribadah kepada Allah adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Sementara seorang hamba tidak akan bisa mewujudkan hal itu kecuali dengan petunjuk dan bantuan dari-Nya. Oleh sebab itu, setiap hari pula kita membaca ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ [hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan]; yang di dalamnya terkandung perintah untuk beribadah dan berdoa kepada Allah serta bertawakal dan memohon pertolongan kepada-Nya semata, laa haula wa laa quwwata illa billaah…

Tanpa bantuan dan pertolongan Allah, kita tidak bisa melakukan apa-apa. Apakah itu sholat, puasa, zakat, haji, sedekah, dakwah, dan lain sebagainya. Semuanya bisa terlaksana dengan rahmat dan taufik dari Allah kepada kita.

Apabila demikian, maka seharusnya ketaatan dan amalan yang kita lakukan semakin membuat kita merendah dan tunduk kepada Allah serta rendah hati kepada sesama. Demikianlah sifat Ibadurrahman; hamba-hamba pilihan yang diistimewakan Allah.

Demikian pula generasi terbaik umat ini -yaitu para sahabat- sebagaimana dikisahkan oleh seorang tabi’in Ibnu Abi Mulaikah rahimahullah, “Aku telah berjumpa dengan tiga puluh orang Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sementara mereka semuanya merasa takut dirinya terjangkit kemunafikan.”

Ibrahim at-Taimi rahimahullah -seorang ulama dan ahli ibadah diantara tabi’in- bahkan mengatakan, “Tidaklah aku menghadapkan ucapanku kepada amalanku melainkan aku khawatir menjadi orang yang didustakan.” Maksudnya, karena berlainan antara ucapan dengan perbuatannya, hal itu beliau ucapkan dengan penuh ketawadhu’an. Padahal, siapakah mereka dan siapa pula kita? Tentu kita lebih pantas khawatir daripada mereka…

Karena itulah, semestinya semakin dalam ilmu yang kita peroleh dan semakin luas pengetahuan agama yang kita serap, maka rasa takut kepada Allah di dalam hati kita pun haruslah semakin besar. Bukankah Allah telah berfirman (yang artinya), “Hanya saja merasa takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya yaitu para ulama.” (QS. Fathir)

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu mengatakan, “Bukanlah ilmu itu dengan banyaknya riwayat, akan tetapi hakikat ilmu itu adalah khosy-yah/rasa takut kepada Allah.” Tidaklah kita ragukan bahwa menimba ilmu harus melalui riwayat -yaitu riwayat hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan juga kitab-kitab ulama. Meskipun demikian, semata-mata banyaknya hafalan dan koleksi buku bukanlah standar dan parameter keilmuan yang sebenarnya.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah pernah mengatakan, “Seorang yang berilmu tetap dalam keadaan bodoh selama dia belum mengamalkan ilmunya, apabila dia telah mengamalkannya barulah dia menjadi seorang yang benar-benar ‘alim.”

Inilah yang dimaksud dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka niscaya Allah pahamkan kepadanya urusan agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah radhiyallahu’anhu)

Yang dimaksud dengan ‘fikih’ atau kepahaman agama yang menjadi ciri kebaikan seorang bukanlah semata-mata keluasan ilmu dan pengetahuan, akan tetapi ilmu yang membuahkan amalan, ketakwaan, dan rasa takut kepada Allah. Oleh sebab itu, ketika salah seorang salaf yang bernama Sa’ad bin Ibrahim rahimahullah ditanya, “Siapakah orang yang paling fakih diantara ulama di Madinah?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang paling bertakwa diantara mereka.”

Oleh sebab itu pula, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita untuk berdoa -seusai sholat subuh- dengan membaca, ‘Allahumma inni as’aluka ‘ilman naafi’an wa rizqan thayyiban wa ‘amalan mutaqobbalan’ [Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima]

Meskipun demikian, ini semua tidaklah mengecilkan arti menimba ilmu dan mengajarkannya. Bahkan Imam Bukhari rahimahullah telah menegaskan di dalam kitab Sahihnya ‘Ilmu sebelum ucapan dan perbuatan’ yang menunjukkan betapa pentingnya ilmu dalam melandasi setiap ucapan dan perbuatan insan.

Bahkan, sahabat Abud Darda’ radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Barangsiapa yang menilai bahwa berangkat di pagi hari atau di sore hari untuk menimba ilmu bukan termasuk jihad, maka sungguh akal dan pikirannya kurang beres.”

Dari sinilah kita bisa memahami urgensi ilmu dan urgensi amalan. Oleh sebab itu sebagian salaf ketika ditanya, “Manakah yang lebih kamu sukai ilmu atau amal?” Beliau menjawab, “Tidak boleh meninggalkan ilmu dengan dalih untuk fokus beramal, dan tidak boleh meninggalkan amal dengan dalih fokus untuk berilmu.”

Inilah yang sebenarnya telah kita ikrarkan di dalam sholat kita dalam bacaan ‘shirathalladzina an’amta ‘alaihim’ [yaitu jalannya orang-orang yang Engkau berikan nikmat atas mereka]. Sebab nikmat yang dimaksud di sini sebagaimana diterangkan para ulama adalah nikmat ilmu dan amalan. Tanpa ilmu, maka kita akan mengikuti kesesatan kaum Nasrani, dan tanpa amal kita akan meniti jejak kaum Yahudi yang dimurkai.

Semoga tulisan singkat ini bermanfaat. Wallahul muwaffiq.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada April 2, 2014 in Bersih Jiwa, Jalan Lurus

 

Tag: , , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: