RSS

Malu Bagian Dari Iman

23 Mar

2010211012046s

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu terdiri dari tujuh puluh lebih atau enam puluh lebih cabang. Yang paling utama adalah ucapan laa ilaha illallah, yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan, dan rasa malu adalah salah satu cabang keimanan.” (HR. Bukhari no 9 dan Muslim no 35, lafal ini milik Muslim)

[1] Hakikat Iman

Iman adalah pembenaran yang mantap dan pengakuan yang sempurna terhadap segala perintah Allah dan rasul-Nya, menyakini dan tunduk kepadanya baik secara lahir maupun batin. Iman meliputi pembenaran hati dan keyakinan yang memiliki konsekuensi amalan hati dan anggota badan.

Oleh sebab itu para ulama menjelaskan bahwa iman adalah, “Ucapan hati dan lisan, serta amalan hati, lisan dan anggota badan.” Sehingga, iman adalah ucapan, amalan, dan keyakinan, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan (lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarat al-Iman, hal. 7)

Keimanan yang benar akan senantiasa disertai dengan rasa malu kepada Allah, cinta kepada-Nya, harapan yang sangat kuat untuk meraih pahala-Nya, dan rasa takut terhadap hukuman-Nya. Selain itu, keimanan yang benar dan tulus akan menjadi cahaya bagi seorang hamba, yang akan mengentaskan dirinya dari kegelapan dosa (lihat at-Taudhih wa al-Bayan li Syajarat al-Iman, hal. 63).

[2] Keutamaan Rasa Malu

Dari ‘Uqbah bin ‘Amr al-Anshari radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya salah satu ajaran kenabian yang pertama-tama dikenal oleh umat manusia adalah: Jika kamu malu, maka berbuatlah sekehendakmu.” (HR. Bukhari no 3483).

Syaikh Yahya al-Hajuri hafizhahullah berkata, “Artinya adalah, orang yang tidak punya rasa malu niscaya dia akan melakukan berbagai perbuatan yang tercela.” (lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah, hal. 146).

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Maknanya, apabila kamu hendak melakukan sesuatu, maka jika hal itu adalah suatu perbuatan yang tidak memalukan di hadapan Allah dan tidak memalukan di hadapan manusia maka lakukanlah. Kalau bukan, maka jangan kamu lakukan. Di atas hadits inilah berporos seluruh ajaran Islam.” (lihat ad-Durrah as-Salafiyah, hal. 158).

Syaikh Abdul Muhsin al-‘Abbad al-Badr hafizhahullah menjelaskan, “Hadits ini menunjukkan bahwa rasa malu itu terpuji. Sebagaimana ia berlaku dalam syari’at ini, maka ia pun berlaku dalam syari’at-syari’at terdahulu. Rasa malu merupakan bagian dari nilai-nilai akhlak mulia yang diwariskan oleh para nabi hingga kenabian itu berakhir pada umat ini. Perintah yang ada di dalam hadits ini menunjukkan kebolehan dan tuntutan apabila perkara yang tidak membuat malu itu bukan sesuatu yang dilarang oleh syari’at. Namun, apabila sesuatu yang tidak membuat malu itu adalah perkara yang terlarang, maka perintah ini maksudnya adalah tantangan/ancaman, atau menunjukkan bahwasanya perbuatan semacam itu tidak mungkin terjadi kecuali pada orang yang tidak punya rasa malu sama sekali atau sedikit rasa malunya.” (lihat Fath al-Qawi al-Matin, hal. 73)

Malu adalah akhlak para nabi ‘alahimus shalatu was salam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang sangat pemalu, bahkan lebih pemalu daripada seorang gadis yang sedang dalam pingitan. Demikian pula Nabi Musa ‘alaihis salam adalah seorang yang sangat pemalu, sehingga beliau tidak mau mandi bersama-sama sebagaimana kebiasaan Bani Isra’il. Apabila rasa malu itu lenyap, seorang perempuan akan seenaknya mengumbar aurat di hadapan kaum lelaki. Begitu pula, kaum lelaki yang tidak punya rasa malu akan suka melontarkan celaan dan umpatan kepada orang lain. Dalam sejarah pun kita mengetahui bahwa Abu Sufyan -yang ketika itu belum masuk Islam- selamat dari berdusta karena dia malu apabila dirinya dikatakan pendusta. Rasa malu akan menghalangi orang dari melakukan berbagai perbuatan keji, mencuri, berteriak-teriak di pasar, dan lain sebagainya (diringkas dari keterangan Syaikh Yahya al-Hajuri dalam Syarh al-Arba’in, hal. 147-148)

[3] Dua Macam Rasa Malu

Dalam pengertian syari’at, yang dimaksud rasa malu adalah suatu akhlak/perangai yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan buruk dan menghalangi dirinya dari meremehkan dalam menunaikan kewajiban kepada pihak yang berhak menerimanya (lihat Fath al-Bari [1/67]).

al-Jarrah bin Abdullah al-Hakami rahimahullah berkata, “Aku meninggalkan dosa karena malu selama empat puluh tahun lamanya, kemudian setelah itu barulah aku menemukan wara’/sikap kehati-hatian.” (lihat Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam, hal. 256)

Malu terbagi dua; malu yang berkaitan dengan hak Allah ‘azza wa jalla dan malu yang berkaitan dengan hak makhluk/sesama. Rasa malu yang berkaitan dengan hak Allah maksudnya adalah malu kepada Allah apabila Dia melihat kita melakukan larangan-Nya atau menelantarkan perintah-Nya, malu semacam ini hukumnya adalah wajib. Adapun malu yang berkaitan dengan makhluk adalah dengan menahan diri dari berbagai perbuatan yang merusak harga diri dan mencemari akhlak (lihat Syarh al-Arba’in an-Nawawiyah oleh Syaikh Ibnu Utsaimin, hal. 210)

[4] Akar Rasa Malu

Rasa malu kepada Allah lahir dari dua hal. Pertama; melihat kepada curahan nikmat dari Allah kepada hamba yang sedemikian banyak. Kedua; melihat rendahnya kualitas penghambaan yang dilakukan olehnya. al-Junaid rahimahullah berkata, “Hakikat rasa malu adalah melihat berbagai karunia; yaitu kenikmatan, dan melihat akan rendahnya kualitas penghambaan. Dari kedua hal inilah terlahir apa yang disebut dengan rasa malu (kepada Allah, pent).” (lihat Syarh Muslim [2/89])

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Sebuah perkara yang amat mengherankan adalah tatkala kamu telah mengenal-Nya tetapi kamu tidak mencintai-Nya. Kamu mendengar da’i yang menyeru kepada-Nya namun kamu berlambat-lambat dalam memenuhi seruan-Nya. Kamu menyadari betapa besar keuntungan yang dicapai dengan bermuamalah dengan-Nya namun kamu justru memilih bermuamalah dengan selain-Nya. Kamu mengerti betapa berat resiko kemurkaan-Nya namun kamu justru membangkang kepada-Nya. Kamu bisa merasakan pedihnya kegalauan akibat bermaksiat kepada-Nya namun kamu tidak mau mencari ketentraman dengan taat kepada-Nya. Kamu bisa merasakan kesempitan hati tatkala sibuk dengan selain ucapan-Nya atau pembicaraan tentang-Nya namun kamu tidak merindukan kelapangan hati melalui dzikir dan munajat kepada-Nya. Kamu pun bisa merasakan betapa tersiksanya hatimu tatkala bergantung kepada selain-Nya namun kamu tidak meninggalkan hal itu menuju kenikmatan pengabdian serta kembali bertaubat dan taat kepada-Nya. Dan yang lebih aneh daripada ini semua adalah kesadaranmu bahwa kamu pasti membutuhkan-Nya dan Dia merupakan sosok yang paling kamu perlukan, tetapi kamu justru berpaling dari-Nya dan mencari sesuatu yang menjauhkan dirimu dari-Nya.” (lihat al-Fawa’id, hal. 45)

Ibnul Qoyyim rahimahullah berkata, “Beruntunglah orang yang bisa bersikap adil terhadap Rabbnya. Sehingga dia akan mengakui kebodohan ilmu dan banyaknya kerusakan amal-amalnya. Dia akan bisa melihat betapa banyak aib dan keteledorannya dalam menunaikan kewajiban kepada-Nya, dan betapa banyak kezaliman yang dilakukannya tatkala berinteraksi dengan-Nya. Apabila Allah menghukumnya karena dosa yang dilakukannya, dia memandangnya sebagai bentuk keadilan Allah kepadanya. Apabila Allah tidak menyiksanya, dia akan memandangnya sebagai karunia dari-Nya. Apabila dia melakukan kebaikan, dia menilainya sebagai anugerah dan sedekah dari Allah kepadanya. Kemudian apabila Allah berkenan menerima amal kebaikannya maka itu merupakan anugerah dan sedekah kedua baginya. Namun, apabila ternyata Allah tidak menerimanya, dia menyadari bahwa bisa jadi amal semacam itu memang tidak pantas dipersembahkan kepada-Nya. Apabila dirinya melakukan kejelekan, dipandangnya hal itu terjadi karena Allah meninggalkan, tidak mengurusi, dan melepaskan penjagaan-Nya. Itu semua menjadi bukti keadilan Allah atas dirinya. Berdasarkan itulah, dia akan bisa melihat betapa butuhnya dia kepada Rabbnya. Dia pun menyadari betapa zalim kelakuannya terhadap dirinya sendiri. Kalaupun seandainya Allah berkenan mengampuni dosanya, maka hal itu semata-mata karena kebaikan, kemurahan, kedermawanan, dan kemuliaan diri-Nya. Inti perkara dan rahasia ini semua adalah: dia tidak memandang Rabbnya (Allah) melainkan sosok yang senantiasa berbuat baik, sedangkan dia tidak memandang dirinya melainkan orang yang sering berbuat kekeliruan, berlebihan, atau suka menyepelekan. Dengan itu dia bisa menilai bahwa segala sesuatu yang menyenangkannya muncul dari keutamaan dan kemurahan Rabbnya kepadanya. Itu merupakan kebaikan yang dicurahkan Allah kepada dirinya. Adapun perkara-perkara yang membuatnya sedih timbul akibat dosa yang dia lakukan dan keadilan Allah kepadanya…” (lihat al-Fawa’id, hal. 36)

[5] Menjaga Lisan, Salah Satu Buah Rasa Malu

Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu’anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seorang muslim adalah yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari lisan dan tangannya. Dan seorang yang benar-benar berhijrah adalah yang meninggalkan segala perkara yang dilarang Allah.” (HR. Bukhari no 10).

Dari Abu Musa radhiyallahu’anhu, beliau menceritakan bahwa para Sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai Rasulullah! Islam manakah yang lebih utama?” Beliau menjawab, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari no 11 dan Muslim no 42)

an-Nawawi rahimahullah berkata, “Sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Yaitu orang yang membuat kaum muslimin yang lain selamat dari lisan dan tangannya.” Maknanya adalah orang yang tidak menyakiti seorang muslim, baik dengan ucapan maupun perbuatannya. Disebutkannya tangan secara khusus dikarenakan sebagian besar perbuatan dilakukan dengannya.” (lihat Syarh Muslim [2/93]).

Imam al-Khaththabi rahimahullah berkata, “Maksud hadits ini adalah bahwa kaum muslimin yang paling utama adalah orang yang selain menunaikan hak-hak Allah ta’ala dengan baik maka dia pun menunaikan hak-hak sesama kaum muslimin dengan baik pula.” (lihat Fath al-Bari [1/69])

al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Hendaknya kamu disibukkan dengan memperbaiki dirimu, janganlah kamu sibuk membicarakan orang lain. Barangsiapa yang senantiasa disibukkan dengan membicarakan orang lain maka sungguh dia telah terpedaya.” (lihat ar-Risalah al-Mughniyah fi as-Sukut wa Luzum al-Buyut, hal. 38).

Sebagian orang bijak mengatakan dalam syairnya:

Kita mencela masa, padahal aib itu ada dalam diri kita

Tidaklah ada aib di masa kita kecuali kita

Kita mencerca masa, padahal dia tak berdosa

Seandainya masa bicara, niscaya dia lah yang ‘kan mencerca kita

Agama kita adalah pura-pura dan riya’ belaka

Kita kelabui orang-orang yang melihat kita

(lihat ar-Risalah al-Mughniyah, hal. 41)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 23, 2014 in Bersih Jiwa, Keutamaan

 

Tag: , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: