RSS

Makna Syahadat Muhammad Rasulullah

22 Jan

74695157 (1)

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Islam ditegakkan di atas dua kalimat syahadat. Syahadat yang pertama yaitu laa ilaaha illallah. Di dalamnya terkandung persaksian bahwa hanya Allah sesembahan yang hak, adapun segala sesembahan selain-Nya adalah batil. Syahadat yang kedua yaitu Muhammad Rasulullah. Di dalamnya terkandung persaksian bahwa beliau adalah utusan Allah subhanahu wa ta’ala kepada segenap umat manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada seorang pun yang mendengar kenabianku diantara umat ini,apakah dia beragama Yahudi atau Nasrani, kemudian dia meninggal dalam keadaan tidak beriman dengan ajaran yang aku bawa melainkan dia pasti termasuk penghuni neraka.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan kepada kita kewajiban seluruh umat manusia setelah diutusnya beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk beriman kepadanya. Beriman kepada beliau maknanya adalah -sebagaimana dijelaskan oleh Syaikh Muhammad at-Tamimi dalam Tsalatsah al-Ushul– :

  1. Membenarkan berita yang disampaikannya
  2. Melaksanakan perintahnya
  3. Menjahui larangannya
  4. Beribadah kepada Allah hanya dengan mengikuti syari’at beliau

Hal ini dikarenakan pada hakikatnya ketaatan kepada Rasul adalah ketaatan kepada Allah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang taat kepada rasul itu sesungguhnya dia telah taat kepada Allah.” (QS. An-Nisaa’: 80)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul, dan juga ulil amri diantara kalian. Kemudian apabila kalian berselisih mengenai suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul. Jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Hal itu lebih baik bagi kalian dan lebih bagus hasilnya.” (QS. An-Nisaa’: 59)

Allah ta’ala juga berfiirman (yang artinya), “Tidaklah pantas bagi seorang yang beriman lelaki dan perempuan, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara kemudian masih ada bagi mereka pilihan yang lain dalam urusan mereka itu. Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. Al-Ahzab: 36)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah dia -Muhammad- itu berbicara dari hawa nafsunya, tidaklah yang diucapkannya itu melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya.” (QS. An-Najm: 2-3)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Apa saja yang dibawa oleh rasul untuk kalian maka ambillah, dan apa saja yang dia larang dari kalian maka tinggalkanlah.” (QS. al-Hasyr: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada tuntunannya dari kami maka dia pasti tertolak.” (HR. Muslim)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabbnya dengan sesuatu apa pun.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Di dalam ayat ini terkandung dua buah syarat diterimanya amal, yaitu amal itu harus salih; maksudnya harus mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan amal itu juga harus ikhlas; maksudnya terbebas dari syirik.

Amal yang tidak ada tuntunannya adalah amal yang tidak diterima. Karena agama Islam ini telah sempurna. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian, Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan Aku ridha Islam sebagai agama untuk kalian.” (QS. Al-Maa’idah: 3)

Imam Malik rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengada-adakan di dalam Islam suatu bid’ah/ajaran baru yang dia anggap itu sebagai kebaikan, maka sesungguhnya dia telah menuduh Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah. Karena Allah telah berfirman (yang artinya), ‘Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagi kalian agama kalian…’ Oleh sebab itu apa-apa yang pada hari itu bukan termasuk agama, maka hari ini hal itu juga bukan bagian dari ajaran agama.”

Sebagian ulama salaf berkata, “Bid’ah lebih dicintai oleh Iblis daripada maksiat biasa. Karena maksiat masih bisa diharapkan taubat pelakunya, sementara bid’ah hampir tidak bisa diharapkan pelakunya bertaubat darinya.”

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Apabila suatu hadits itu sahih maka itulah madzhabku.”

Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maka dia berada di tepi jurang kehancuran.”

Iman kepada Rasul juga berarti menjadikan kecintaan kepada beliau harus lebih diutamakan daripada kecintaan kepada seluruh manusia. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga perkara, barangsiapa yang hal itu ada pada dirinya maka dia akan merasakan manisnya iman.” salah satunya, “Apabila Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada segala sesuatu selain keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Iman kepada Rasul juga berarti harus tunduk kepada hukum dan syari’atnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Demi Rabb-mu sekali-kali mereka tidaklah beriman sampai mereka menjadikan kamu sebagai hakim bagi mereka dalam hal-hal yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak mendapati rasa sempit di dalam hati mereka atas keputusan yang kamu berikan dan mereka pun pasrah sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa’ : 65)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Januari 22, 2014 in Kaidah Penting, Penjabaran

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: