RSS

Berbagai Bentuk Sesembahan Kaum Musyrikin

13 Des

pulau-berhala-1

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam muncul di tengah-tengah umat manusia yang berbeda-beda dalam hal peribadatan. Diantara mereka ada yang menyembah malaikat, ada pula yang menyembah para nabi dan orang-orang salih. Selain itu, ada juga diantara mereka yang memuja batu dan pohon. Ada yang menyembah matahari dan bulan.

Meskipun demikian, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi mereka dan tidak membeda-bedakan mereka. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Perangilah mereka sampai tidak ada lagi fitnah (syirik) dan agama seluruhnya menjadi milik Allah.” (QS. Al-Anfal: 39)

Dalil bahwasanya ada diantara mereka (orang musyrik) yang memuja matahari dan bulan adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Diantara tanda kebesaran Allah adalah malam dan siang, matahari dan bulan, maka janganlah kalian sujud kepada matahari atau kepada bulan. Akan tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan itu semua, jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 37)

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang memuja malaikat adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan dia [rasul] tidaklah memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan.” (QS. Ali ‘Imran: 80)

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang menyembah nabi-nabi adalah firman Allah (yang artinya), “Dan ingatlah ketika Allah bertanya; Wahai Isa bin Maryam, apakah engkau berkata kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua sesembahan selain Allah. Maka Isa menjawab: Maha suci Engkau, tidak layak bagiku untuk mengatakan sesuatu yang bukan menjadi hakku. Jika aku telah mengatakannya pastilah Engkau sudah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib.” (QS. Al-Ma’idah: 116)

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang memuja orang-orang salih adalah firman Allah (yang artinya), ”Mereka itu yang diseru selain Allah justru mencari kedekatan diri kepada Allah; siapakah diantara mereka yang paling bisa dekat dengan-Nya dan berharap rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya.” (QS. Al-Isra’: 57)

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang beribadah kepada pohon dan batu adalah firman Allah (yang artinya), “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Latta, ‘Uzza, dan Manat sesembahan yang ketiga.” Demikian pula hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu. Beliau berkata, “Suatu ketika kami pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Ketika itu kami masih baru keluar dari kekafiran (baru masuk Islam). Sementara orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka gunakan untuk tempat i’tikaf dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath. Lalu, ketika kami melewati pohon itu, sebagian diantara kami berkata: Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami sebuah Dzatu  Anwath (tempat istimewa untuk menggantungkan senjata) sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” (al-Hadits)

[lihat Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab, hal. 201-202]

Pemujaan Matahari dan Bulan

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Diantara tanda kebesaran Allah adalah malam dan siang, matahari dan bulan, maka janganlah kalian sujud kepada matahari atau kepada bulan. Akan tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan itu semua, jika kalian benar-benar beribadah hanya kepada-Nya.” (QS. Fushshilat: 37)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan maksud dari ayat, “Janganlah kalian sujud kepada matahari atau kepada bulan. Akan tetapi sujudlah kepada Allah yang telah menciptakan itu semua.” Beliau berkata, “Janganlah kalian mempersekutukan hal itu dengan-Nya. Karena tidaklah berguna ibadah kalian kepada-Nya jika kalian juga beribadah kepada selain-Nya. Sebab Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [7/182] cet. Dar Thaibah)

Pemujaan Malaikat dan Nabi

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan dia [rasul] tidaklah memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan.” (QS. Ali ‘Imran: 80)

Ibnu Juraij dan sekelompok ulama tafsir yang lain menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah, “Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidaklah memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan Shabi’in yang berkeyakinan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah. Tidak juga sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani yang berkeyakinan tentang ‘Isa al-Masih dan ‘Uzair seperti apa yang mereka ucapkan [bahwa mereka adalah anak Allah, pent].” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 220 oleh Imam al-Baghawi)

Pemujaan Orang Salih

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang memuja orang-orang salih adalah firman Allah (yang artinya), ”Mereka itu yang diseru selain Allah justru mencari kedekatan diri kepada Allah; siapakah diantara mereka yang paling bisa dekat dengan-Nya dan berharap rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya.” (QS. Al-Isra’: 57)

Ibnu ‘Abbas dan Mujahid menafsirkan, bahwa yang dimaksud ‘yang diseru selain Allah’ di dalam ayat ini adalah: ‘Isa, ibunya [Maryam], ‘Uzair, malaikat, matahari dan bulan serta bintang-bintang. Mereka semua mencari kedekatan diri atau kedudukan yang mulia di sisi Allah. Adapun Ibnu Mas’ud menafsirkan bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kejadian yang menimpa orang musyrikin arab masa silam yang menyembah kepada jin, kemudian ternyata jin yang mereka sembah masuk Islam sedangkan mereka tidak mengetahuinya. Sementara mereka terus bertahan di atas kesyirikannya. Maka Allah pun mencela perbuatan mereka dengan turunnya ayat ini (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 746)

Pemujaan Batu dan Pohon

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang beribadah kepada pohon dan batu adalah firman Allah (yang artinya), “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Latta, ‘Uzza, dan Manat sesembahan yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Latta dahulunya adalah sosok lelaki yang suka mencampur gandum dengan daging untuk disedekahkan kepada para jama’ah haji. Ketika lelaki salih ini meninggal maka orang-orang pun menjadikan kuburnya sebagai tempat ibadah. Adapun ‘Uzza adalah sebuah pohon keramat yang dikelilingi dengan bangunan dan kain penutup. Sementara Manat adalah batu putih besar yang berukir dan disembah oleh para penduduk Tha’if (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hal. 48 oleh Muhammad bin Sa’ad al-Hanin)

Adapun dalil pemujaan kepada pohon di dalam as-Sunnah adalah hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu. Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu ketika kami pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Ketika itu kami masih baru keluar dari kekafiran (baru masuk Islam). Sementara orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka gunakan untuk tempat i’tikaf dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath. Lalu, ketika kami melewati pohon itu, sebagian diantara kami berkata: “Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami sebuah Dzatu  Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari para sahabat tatkala mereka meminta kepada beliau untuk dibuatkan sebuah tempat khusus (pohon) untuk menggantungkan senjata dan mengharap berkah darinya, sebab perbuatan ini adalah termasuk kesyirikan.

Faidah Hadits

Dari hadits di atas ada beberapa pelajaran penting yang patut untuk kita renungkan, yaitu:

  1. Besarnya bahaya akibat tidak memahami tauhid, sehingga hal itu akan menyeret orang ke dalam perbuatan atau keyakinan syirik dalam keadaan dia tidak menyadarinya. Maka kebodohan dalam masalah aqidah adalah sangat berbahaya.
  2. Hadits di atas menunjukkan bahaya meniru-niru orang musyrik, karena hal itu akan bisa menyeret kepada tindak kemusyrikan. Oleh sebab itu tidak boleh meniru-niru (tasyabbuh) kepada mereka.
  3. Mencari berkah kepada pohon, batu, dan bangunan -termasuk di dalamnya kubur-kubur wali- adalah perbuatan syirik. Karena di dalamnya terkandung pencarian berkah kepada selain Allah, entah itu ditujukan kepada batu, pohon, kubur, atau tempat-tempat keramat yang lain. Itu semua termasuk syirik (lihat transkrip Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, hal. 29)

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan beberapa catatan berharga sebagai berikut:

  1. Sesembahan yang ada di masa diutusnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beraneka ragam, tidak terbatas berupa berhala. Bahkan diantara mereka ada yang memuja nabi dan orang salih. Sehingga pemujaan kepada orang salih (baca: kuburnya) termasuk perbuatan syirik yang harus diperangi.
  2. Keumuman perintah untuk memerangi segala jenis orang musyrik -yaitu yang beribadah kepada selain Allah- apa pun bentuk sesembahannya, entah itu malaikat, nabi ataupun orang salih (wali)
  3. Kebatilan penafsiran para pengagung kubur yang membatasi tafsir ayat-ayat tentang syirik hanya kepada pemujaan terhadap berhala dan -menurut mereka- hal itu tidak berlaku (bukan syirik) apabila yang dipuja adalah nabi atau orang salih (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Muhammad bin Sa’ad al-Hanin, hal. 49)
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Desember 13, 2013 in Kaidah Penting

 

Tag: , , , , , , , , , , ,

One response to “Berbagai Bentuk Sesembahan Kaum Musyrikin

  1. resortkahuripan

    Desember 18, 2013 at 12:21 am

    Info yang sangat bermanfaat dan menarik….
    By: Media Dakwah | Ustadz | Ponpes Sirojul Huda Bogor.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: