RSS

Kebatilan Argumentasi Kaum Musyrikin

10 Des

halilintar

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

Satu hal yang semestinya engkau mengerti, bahwasanya orang-orang kafir yang diperangi oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengakui bahwasanya Allah adalah satu-satunya pencipta dan pengatur segala urusan. Meskipun demikian, hal itu belumlah memasukkan mereka ke dalam Islam.

Dalilnya adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Katakanlah: Siapakah yang memberikan rizki kepada kalian dari langit dan bumi? Siapakah yang berkuasa atas pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Siapakah yang mengatur segala urusan? Pasti mereka akan menjawab: Allah. Maka katakan: Lalu mengapa kalian tidak bertakwa?” (QS. Yunus: 31)

[lihat Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab, hal. 200]

Keyakinan Kaum Musyrikin Kepada Allah

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah kebanyakan mereka beriman kepada Allah, melainkan mereka juga terjerumus dalam kemusyrikan.” (QS. Yusuf: 107).

Ikrimah berkata, “Tidaklah kebanyakan mereka -orang-orang musyrik- beriman kepada Allah kecuali dalam keadaan berbuat syirik. Apabila kamu tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Maka mereka akan menjawab, ‘Allah’. Itulah keimanan mereka, namun di saat yang sama mereka juga beribadah kepada selain-Nya.” (lihat Fath al-Bari [13/556])

Imam al-Baghawi rahimahullah menceritakan, bahwa Ikrimah berkata, “Adalah orang-orang jahiliyah tatkala itu apabila berlayar di lautan maka mereka pun membawa serta berhala-berhala mereka. Pada saat angin bertiup semakin keras [terjadi badai] maka mereka pun melemparkan berhala-berhala itu ke laut lalu berdoa, “Wahai Rabb, wahai Rabb.” [selamatkanlah kami].” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 1001)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah memaparkan, “Mengapa para nabi tidak berkonsentrasi pada penetapan tauhid rububiyah dan dakwah kepadanya? Sebab tauhid rububiyah adalah sesuatu yang telah mereka akui. Mereka tidaklah mengingkarinya, dan tidak ada seorang pun yang berani mengingkari tauhid rububiyah selamanya, kecuali karena kesombongan semata. Karena pada hakikatnya tidak ada seorang pun yang meyakini -selamanya- bahwa alam semesta menciptakan dirinya sendiri. Bahkan, kaum Majusi Tsanuwiyah sekalipun; yang berkeyakinan bahwa alam semesta ini memiliki dua pencipta. Meskipun demikian, mereka tetap meyakini bahwa salah satu diantara keduanya lebih sempurna. Mereka meyakini bahwa tuhan cahaya menciptakan kebaikan, sedangkan tuhan kegelapan menciptakan keburukan. Sementara mereka mengatakan bahwa tuhan cahaya adalah tuhan yang baik dan bermanfaat. Adapun tuhan kegelapan adalah tuhan yang buruk…” “…Intinya, tidak akan anda temukan selamanya seorang pun yang berkata bahwa alam semesta ini diciptakan tanpa adanya Sang pencipta, kecuali orang yang sombong. Sedangkan orang yang sombong semacam ini adalah termasuk golongan orang musyrik. Adapun masalah [tauhid] uluhiyah, maka itulah permasalahan yang menjadi sumber pertikaian dan pertentangan antara para rasul dengan umat mereka.” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Hisan, hal. 21)  

Alasan Kaum Musyrikin Dalam Berbuat Syirik

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata:

Sesungguhnya mereka [orang musyrik dahulu] beralasan, “Tidaklah kami berdoa dan menujukan hati kepada mereka [sesembahan selain Allah] melainkan sekedar untuk mencari kedekatan diri [di sisi Allah] dan syafa’at.”

Dalil yang menunjukkan keinginan mereka menggapai kedekatan diri adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Dan orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai penolong itu mengatakan: ‘Tidaklah kami beribadah kepada mereka melainkan supaya mereka bisa lebih mendekatkan kami kepada Allah sedekat-dekatnya.’ Sesungguhnya Allah pasti akan memutuskan hukum diantara mereka dalam hal apa-apa yang mereka perselisihkan itu. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada pendusta dan orang yang suka berbuat ingkar/kafir.” (QS. Az-Zumar: 3)

Dalil yang menceritakan bahwa mereka mencari syafa’at adalah firman Allah ta’ala (yang artinya), “Mereka beribadah kepada selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan bahaya maupun manfaat untuk mereka. Kemudian mereka mengatakan bahwa mereka itu adalah para pemberi syafa’at untuk kami di sisi Allah.” (QS. Yunus: 18)

[lihat Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad ibn Abdil Wahhab, hal. 200]

Orang-orang musyrik masa silam tidaklah berkeyakinan bahwa patung-patung atau berhala yang mereka sembah adalah yang menciptakan diri mereka atau pencipta langit dan bumi. Mereka juga tidak berkeyakinan bahwa patung-patung itu yang menurunkan hujan dari langit. Lalu mengapa mereka menyembah patung-patung itu? Maka mereka menjawab, “Agar mereka bisa mendekatkan diri kami kepada Allah dan menjadi pemberi syafa’at untuk kami di sisi Allah.” Demikian sebagaimana diterangkan oleh Qatadah rahimahullah (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an oleh Imam al-Qurthubi [18/247])

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan, bahwa orang-orang musyrik kala itu membuat patung-patung mereka sebagai simbol dari malaikat yang mereka harapkan bisa memberikan syafa’at untuk mereka di sisi Allah demi memenuhi keinginan mereka semacam agar bisa mendapatkan kemenangan, melancarkan rizkinya, atau untuk mencapai berbagai keinginan dunia selainnya. Adapun mengenai hari pembalasan (kiamat) maka mereka tidak mempercayainya (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [7/61-62] cet. At-Taufiqiyah)

Bantahan Bagi Para Pemuja Kubur

Salah satu bentuk kesyirikan adalah meminta (baca: berdoa) bebagai kebutuhan kepada orang yang sudah mati dan beristighotsah kepadanya. Ini adalah sumber bertebarnya syirik di dunia. Padahal, orang yang sudah mati sudah terputus amalnya dan tidak menguasai bagi dirinya sendiri kemanfaatan maupun bahaya apalagi untuk orang yang beristighotsah atau meminta syafa’at kepadanya (lihat ad-Durr an-Nadhidh ‘ala Abwab at-Tauhid, hal. 121)

Orang-orang musyrik masa silam berdoa kepada para malaikat agar memberikan syafa’at bagi mereka di sisi Allah. Syaikh Sulaiman bin ‘Abdullah rahimahullah mengatakan, “Apabila mengangkat para malaikat sebagai pemberi syafa’at tandingan selain Allah adalah kesyirikan, maka bagaimanakah lagi dengan perbuatan orang yang menjadikan orang-orang yang sudah mati -sebagai pemberi syafa’at- sebagaimana yang dilakukan oleh para pemuja kubur?!” (lihat Taisir al-‘Aziz al-Hamid [1/517])

Syafa’at adalah milik Allah, bukan milik para malaikat, nabi atau wali. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Milik Allah semua syafa’at itu.” (QS. Az-Zumar: 44). Oleh sebab itu tidak boleh meminta syafa’at kecuali kepada Allah. Tidak ada yang bisa memberikan syafa’at kecuali dengan izin Allah, karena syafa’at adalah milik-Nya. Bahkan, berdoa kepada para wali (baca: sesembahan selain Allah) demi mendapatkan syafa’at dan mendekatkan diri kepada Allah itulah sebab mengapa Allah mengkafirkan orang-orang musyrik zaman dahulu (lihat penjelasan Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah dalam Syarh Kitab Kasyfu asy-Syubuhat, hal. 79-80)

Syafa’at hanya diberikan kepada orang yang bertauhid. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap Nabi memiliki sebuah doa yang mustajab, maka semua Nabi bersegera mengajukan doa/permintaannya itu. Adapun aku menunda doaku itu sebagai syafa’at bagi umatku kelak di hari kiamat. Doa -syafa’at- itu -dengan kehendak Allah- akan diperoleh setiap orang yang meninggal di antara umatku dan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (HR. Muslim) 

Dalam riwayat Ahmad disebutkan, Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Aku adalah orang yang paling mengetahui tentang syafa’at Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat.” Orang-orang pun berpaling kepada beliau. Mereka berkata, “Beritahukanlah kepada kami, semoga Allah merahmatimu.” Abu Hurairah berkata: Yaitu beliau berdoa, “Ya Allah, ampunilah setiap muslim yang beriman kepada-Mu dan tidak mempersekutukan-Mu dengan sesuatu apapun.” (HR. Ahmad, sanadnya dinilai hasan, lihat al-Ba’ts karya Ibnu Abi Dawud, hal. 49)

Ini menunjukkan, alasan bahwa para malaikat, nabi atau wali bisa memberikan syafa’at di sisi Allah tidaklah bisa dijadikan sebagai hujjah/dalil untuk membolehkan berdoa [meminta syafa’at] kepada mereka karena dua sebab:

  1. Syafa’at bukan milik mereka, tetapi milik Allah semata (baca: az-Zumar 44). Sehingga memintanya kepada selain Allah adalah jelas sebuah kekeliruan
  2. Berdoa kepada selain Allah adalah syirik, karena doa adalah ibadah dan memalingkan ibadah kepada selain Allah adalah kemusyrikan (baca: al-Jin 19). Sehingga dengan berdoa kepada selain Allah -untuk meminta syafa’at- justru membuat mereka terhalang dari syafa’at. Sebab syafa’at tidak akan diberikan kepada orang musyrik.

Pemujaan Malaikat dan Nabi

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan dia [rasul] tidaklah memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan.” (QS. Ali ‘Imran: 80)

Ibnu Juraij dan sekelompok ulama tafsir yang lain menjelaskan, bahwa maksud dari ayat ini adalah, “Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidaklah memerintahkan kalian untuk menjadikan malaikat dan para nabi sebagai sesembahan, sebagaimana halnya yang dilakukan oleh kaum Quraisy dan Shabi’in yang berkeyakinan bahwa malaikat adalah putri-putri Allah. Tidak juga sebagaimana kaum Yahudi dan Nasrani yang berkeyakinan tentang ‘Isa al-Masih dan ‘Uzair seperti apa yang mereka ucapkan [bahwa mereka adalah anak Allah, pent].” (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 220 oleh Imam al-Baghawi)

Pemujaan Orang Salih

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang memuja orang-orang salih adalah firman Allah (yang artinya), ”Mereka itu yang diseru selain Allah justru mencari kedekatan diri kepada Allah; siapakah diantara mereka yang paling bisa dekat dengan-Nya dan berharap rahmat-Nya serta takut akan siksa-Nya.” (QS. Al-Isra’: 57)

Ibnu ‘Abbas dan Mujahid menafsirkan, bahwa yang dimaksud ‘yang diseru selain Allah’ di dalam ayat ini adalah: ‘Isa, ibunya [Maryam], ‘Uzair, malaikat, matahari dan bulan serta bintang-bintang. Mereka semua mencari kedekatan diri atau kedudukan yang mulia di sisi Allah. Adapun Ibnu Mas’ud menafsirkan bahwa yang dimaksud oleh ayat ini adalah kejadian yang menimpa orang musyrikin arab masa silam yang menyembah kepada jin, kemudian ternyata jin yang mereka sembah masuk Islam sedangkan mereka tidak mengetahuinya. Sementara mereka terus bertahan di atas kesyirikannya. Maka Allah pun mencela perbuatan mereka dengan turunnya ayat ini (lihat Ma’alim at-Tanzil, hal. 746)  

Pemujaan Batu dan Pohon

Dalil bahwasanya ada diantara mereka yang beribadah kepada pohon dan batu adalah firman Allah (yang artinya), “Bagaimanakah pendapat kalian tentang Latta, ‘Uzza, dan Manat sesembahan yang ketiga.” (QS. An-Najm: 19-20)

Latta dahulunya adalah sosok lelaki yang suka mencampur gandum dengan daging untuk disedekahkan kepada para jama’ah haji. Ketika lelaki salih ini meninggal maka orang-orang pun menjadikan kuburnya sebagai tempat ibadah. Adapun ‘Uzza adalah sebuah pohon keramat yang dikelilingi dengan bangunan dan kain penutup. Sementara Manat adalah batu putih besar yang berukir dan disembah oleh para penduduk Tha’if (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hal. 48 oleh Muhammad bin Sa’ad al-Hanin)

Adapun dalil pemujaan kepada pohon di dalam as-Sunnah adalah hadits Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu. Abu Waqid al-Laitsi radhiyallahu’anhu berkata, “Suatu ketika kami pergi bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuju Hunain. Ketika itu kami masih baru keluar dari kekafiran (baru masuk Islam). Sementara orang-orang musyrik memiliki sebuah pohon yang mereka gunakan untuk tempat i’tikaf dan menggantungkan senjata-senjata mereka. Pohon itu dikenal dengan nama Dzatu Anwath. Lalu, ketika kami melewati pohon itu, sebagian diantara kami berkata: “Wahai Rasulullah, jadikanlah untuk kami sebuah Dzatu  Anwath sebagaimana mereka memiliki Dzatu Anwath.” (HR. Tirmidzi)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingkari para sahabat tatkala mereka meminta kepada beliau untuk dibuatkan sebuah tempat khusus (pohon) untuk menggantungkan senjata dan mengharap berkah darinya, sebab perbuatan ini adalah termasuk kesyirikan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 10, 2013 in Kaidah Penting

 

Tag: , , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: