RSS

Hakikat Millah Ibrahim

10 Agu
Hakikat Millah Ibrahim

images (1)

Syaikh Muhammad at-Tamimi rahimahullah berkata:

Ketahuilah -semoga Allah membimbingmu kepada ketaatan kepada-Nya- sesungguhnya al-Hanifiyah yaitu Millah/agama Ibrahim adalah dengan kamu beribadah kepada Allah semata seraya memurnikan agama/ketaatan untuk-Nya. Hal itu sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

[lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah, hal. 4]

Penjelasan:

Hakikat al-Hanifiyah

Syaikh as-Suhaimi hafizhahullah menjelaskan:

Hakikat al-Hanifiyah adalah condong kepada jalan petunjuk dan kebahagiaan. Yaitu cenderung kepada sikap istiqomah dan apa-apa yang membuat ridha Allah tabaraka wa ta’ala. Itulah millah/ajaran Ibrahim ‘alaihis salam. Hakikat dari ajaran ini adalah anda menyembah Allah dengan memurnikan agama/ketaatan untuk-Nya (baca: tauhid).

Hal itu tidak akan terwujud kecuali dengan dua perkara:

  • Mengesakan Allah tabaraka wa ta’ala dengan segala bentuk ibadah
  • Mencampakkan pemujaan kepada thaghut/sesembahan selain Allah, pent

[lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’ oleh Syaikh Shalih as-Suhaimi hafizhahullah, hal. 5]

Perintah Ibadah

Allah ta’ala berfirman,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyimpulkan makna ayat di atas, “Sesungguhnya Aku menciptakan mereka tidak lain untuk Aku perintahkan mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena kebutuhan-Ku kepada mereka.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-Azhim [7/425])

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullah berkata, “Dia (Allah) tidaklah membutuhkan ibadahmu. Seandainya kamu kafir maka kerajaan Allah tidak akan berkurang. Bahkan, kamulah yang membutuhkan diri-Nya. Kamulah yang memerlukan ibadah itu. Salah satu bentuk kasih sayang Allah adalah dengan memerintahkanmu beribadah kepada-Nya demi kemaslahatan dirimu sendiri. Jika kamu beribadah kepada-Nya, maka Allah subhanahu wa ta’ala akan memuliakanmu dengan balasan dan pahala. Ibadah menjadi sebab Allah memuliakan kedudukanmu di dunia dan di akherat. Jadi, siapakah yang memetik manfaat dari ibadah? Yang memetik manfaat dari ibadah adalah hamba. Adapun Allah jalla wa ‘ala, Dia tidak membutuhkan makhluk-Nya.” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hal. 15-16)

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Makna ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku- adalah agar mereka mengesakan Aku (Allah, pent) dalam beribadah. Atau dengan ungkapan lain ‘supaya mereka beribadah kepada-Ku’ maksudnya adalah agar mereka mentauhidkan Aku; karena tauhid dan ibadah itu adalah sama (tidak bisa dipisahkan, pent).” (lihat I’anat al-Mustafid bi Syarh Kitab at-Tauhid [1/33])

Jadi, makna ayat ini adalah, “Kecuali supaya mereka mentauhidkan diri-Ku.” Orang beriman mentauhidkan Allah pada saat sempit maupun lapang. Adapun orang kafir hanya mentauhidkan Allah pada keadaan terjepit dan tertimpa kesusahan (lihat Tafsir al-Baghawi, hal. 1236)

Keluasan Makna Ibadah

Ibadah pada asalnya mengandung makna perendahan diri, akan tetapi ibadah yang diperintahkan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah suatu bentuk perendahan diri yang paling tinggi kepada Allah dengan disertai puncak rasa cinta kepada-Nya. Seorang yang menundukkan dirinya kepada orang lain namun menyimpan rasa benci kepadanya tidaklah dianggap beribadah kepadanya. Demikian juga orang yang mencintai seseorang namun tidak menundukkan diri kepadanya pun tidak dikatakan beribadah kepadanya. Oleh sebab itu kedua pilar ibadah tersebut -yaitu perendahan diri dan puncak kecintaan- itu harus selalu ada dalam menjalani ibadah kepada Allah. Bahkan Allah harus lebih dicintainya daripada segala sesuatu dan menjadi sosok yang paling agung daripada segala-galanya. Bahkan, tidaklah berhak untuk mendapatkan rasa cinta dan ketundukan yang sempurna kecuali Allah semata. Segala sesuatu yang dicintai bukan karena Allah maka kecintaannya adalah kecintaan yang rusak/tidak sah. Begitu pula tidaklah sesuatu selain Allah diagung-agungkan tanpa perintah dari-Nya melainkan pengagungan itu adalah sebuah kebatilan (lihat al-‘Ubudiyah, hal. 12)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah memberikan sebuah definisi yang cukup bagus, bahwa ibadah merupakan perendahan diri kepada Allah yang dilandasi rasa cinta dan pengagungan dengan cara melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya sebagaimana yang dituntunkan dalam syari’at-Nya (lihat Syarh Tsalatsat al-Ushul, hal. 23 cet. Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah)

Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Menurut pengertian syari’at ibadah itu adalah suatu ungkapan yang memadukan antara kesempurnaan rasa cinta, ketundukan, dan rasa takut.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/34] cet. al-Maktabah at-Taufiqiyah).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Ibadah merupakan sebuah istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, berupa ucapan dan perbuatan, yang batin maupun lahir. Ini artinya sholat, zakat, puasa, haji, jujur dalam berbicara, menunaikan amanat, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang yang mungkar, berjihad memerangi orang kafir dan munafik, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil, maupun kepemilikan dari kalangan manusia (budak) atau binatang piaraan, berdoa, berdzikir, membaca al-Qur’an, dan lain sebagainya itu semua adalah ibadah. Demikian juga kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya, rasa takut kepada Allah, inabah kepada-Nya, mengikhlaskan agama untuk-Nya, bersabar menghadapi ketetapan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridha dengan takdir-Nya, bertawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat-Nya, takut kepada azab-Nya, dan semisalnya [itu semua juga] termasuk ibadah kepada Allah.” (lihat al-‘Ubudiyah, hal. 6 cet. Maktabah al-Balagh)

Syaikh Abdul Aziz ar-Rajihi hafizhahullah menerangkan, “Dengan ungkapan lain, dapat dikatakan bahwa ibadah adalah melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Tercakup di dalamnya menunaikan kewajiban-kewajiban dan menjauhkan diri dari berbagai hal yang diharamkan. Melakukan hal-hal yang wajib dan meninggalkan hal-hal yang diharamkan; yaitu dengan melakukan kewajiban-kewajiban yang Allah wajibkan baik berupa ucapan maupun perbuatan, yang bersifat batin maupun lahir. Meninggalkan hal-hal yang diharamkan, baik yang berupa ucapan maupun perbuatan, yang batin maupun yang lahir.” (lihat Syarh al-‘Ubudiyah, hal. 5)

Dengan ungkapan yang lebih sederhana, dapat disimpulkan bahwa ibadah adalah melakukan segala sesuatu yang membuat Allah subhanahu wa ta’ala ridha (lihat al-Qamus al-Mubin fi Ishthilahat al-Ushuliyyin karya Dr. Mahmud Hamid ‘Utsman, hal. 204)

Pilar-Pilar Ibadah

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Ibadah dibangun di atas dua perkara; cinta dan pengagungan. Dengan rasa cinta maka seorang akan berjuang menggapai keridhaan sesembahannya (Allah). Dengan pengagungan maka seorang akan menjauhi dari terjerumus dalam kedurhakaan kepada-Nya. Karena kamu mengagungkan-Nya maka kamu pun merasa takut kepada-Nya. Dan karena kamu mencintai-Nya, maka kamu pun berharap dan mencari keridhaan-Nya.” (lihat asy-Syarh al-Mumti’ ‘ala Zaad al-Mustaqni’ [1/9] cet. Mu’assasah Aasam)

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah menjelaskan, “Ibadah yang diperintahkan itu mengandung perendahan diri dan kecintaan. Ibadah ini ditopang oleh tiga pilar; cinta, harap, dan takut. Ketiga pilar ini harus berpadu. Barangsiapa yang hanya bergantung kepada salah satunya maka dia belum beribadah kepada Allah dengan benar. Beribadah kepada Allah dengan modal cinta saja adalah metode kaum Sufi. Beribadah kepada-Nya dengan rasa harap semata adalah metode kaum Murji’ah. Adapun beribadah kepada-Nya dengan modal rasa takut belaka, maka ini adalah jalannya kaum Khawarij.” (lihat al-Irsyad ila Shahih al-I’tiqad, hal. 35 cet. Dar Ibnu Khuzaimah)

Ibadah Tidak Diterima Apabila Tercampur Syirik

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka Allah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka, dan tidak ada bagi orang-orang zalim itu penolong.” (QS. Al-Ma’idah: 72)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya. Dan masih berkenan untuk mengampuni apa-apa yang berada di bawah tingkatannya bagi siapa pun yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabb-nya hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan dalam beribadah kepada Rabb-nya dengan sesuatu apapun.” (QS. Al-Kahfi: 110).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah tabaraka wa ta’ala berfirman, ‘Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang di dalamnya dia mempersekutukan selain-Ku bersama diri-Ku maka Kutinggalkan dia bersama kesyirikannya.” (HR. Muslim)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Apabila engkau telah mengetahui bahwasanya Allah menciptakan dirimu supaya beribadah kepada-Nya, maka ketahuilah bahwasanya ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah kecuali apabila disertai dengan tauhid. Sebagaimana halnya sholat tidak dinamakan sholat tanpa thaharah/bersuci. Apabila syirik mencampuri ibadah niscaya ibadah itu akan rusak (tidak sah) sebagaimana halnya apabila hadats masuk kepada thaharah.” (lihat Mu’allafat asy-Syaikh al-Imam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal. 199)

Syaikh Shalih bin Abdul Aziz alu Syaikh hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya persyaratan ikhlas dan tauhid untuk diterimanya ibadah lebih agung daripada persyaratan thaharah untuk diterimanya sholat. Seandainya ada orang yang sengaja mengerjakan sholat dalam keadaan berhadats maka perihal pengkafiran orang ini masih terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama. Adapun mengenai orang yang beribadah kepada Allah dalam keadaan musyrik maka semua ulama sepakat bahwa ibadahnya tidak diterima. Bahkan, berdasarkan ijma’ dia digolongkan sebagai orang kafir karena dia telah mempersekutukan Allah jalla wa ‘ala -yaitu syirik akbar- yang menyebabkan amal tidak diterima karenanya.” (lihat Syarh al-Qawa’id al-Arba’, hal. 5 cet. Dar Jamilurrahman as-Salafi)

Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Setiap amal yang dipersembahkan oleh orang tanpa dibarengi tauhid atau pelakunya terjerumus dalam syirik maka hal itu tidak ada harganya dan tidak memiliki nilai sama sekali untuk selamanya. Karena ibadah tidaklah disebut sebagai ibadah [yang benar] tanpa tauhid. Apabila tidak disertai tauhid, maka bagaimanapun seorang berusaha keras dalam melakukan sesuatu yang tampilannya adalah ibadah seperti bersedekah, memberikan pinjaman, dermawan, suka membantu, berbuat baik kepada orang dan lain sebagainya, padahal dia telah kehilangan tauhid dalam dirinya, maka orang semacam ini termasuk dalam kandungan firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Kami tampakkan kepada mereka segala sesuatu yang telah mereka amalkan -di dunia- kemudian Kami jadikan amal-amal itu laksana debu yang beterbangan.” (QS. al-Furqan: 23).” (lihat Abraz al-Fawa’id min al-Arba’ al-Qawa’id, hal. 11)

Demikianlah yang bisa kami sampaikan pada kesempatan ini, semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita di dunia dan di akhirat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 10, 2013 in Kaidah Penting

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: