RSS

Seri Ayat Tauhid: Rahasia Ilmu al-Qur’an

18 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ

Allah ta’ala berfirman,

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya kepada-Mu -ya Allah- kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 4)

[1] Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sebagaimana dikatakan oleh sebagian salaf bahwa al-Fatihah menyimpan rahasia al-Qur’an, sedangkan rahasia surat ini adalah kalimat ‘Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in‘. Bagian pertama (Iyyaka na’budu) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari syirik. Adapun bagian kedua (Iyyaka nasta’in) adalah pernyataan sikap berlepas diri dari [kemandirian] daya dan kekuatan serta menyerahkan [segala urusan] kepada Allah ‘azza wa jalla.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [1/34] cet. at-Taufiqiyah)

[2] Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad al-Badr hafizhahullah berkata, “Di dalamnya terkandung penetapan tauhid uluhiyah. Dikedepankannya objek yaitu kata Iyyaka memberikan makna pembatasan. Sehingga memberikan arti; “Kami mengkhususkan ibadah dan isti’anah/permintaan tolong hanya kepada-Mu, dan kami tidak mempersekutukan siapa pun bersama-Mu.”.” (lihat Qathfu al-Jana ad-Dani, hal. 57)

[3] Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan hafizhahullah mengatakan, “Di dalamnya terkandung bantahan bagi orang-orang musyrik yang beribadah kepada selain Allah subhanahu wa ta’ala. Iyyaka na’budu mengandung pemurnian ibadah untuk Allah semata; sehingga di dalamnya terkandung bantahan bagi orang-orang musyrik yang menyertakan selain Allah dalam beribadah kepada-Nya.” (lihat Syarh Ba’dhu Fawa’id Surah al-Fatihah, hal. 9)

[4] Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Seolah-olah orang itu -yang membaca ayat ini, pen- berkata, “Kami beribadah kepada-Mu dan tidak beribadah kepada selain-Mu. Kami memohon pertolongan kepada diri-Mu dan tidak memohon pertolongan kepada selain diri-Mu.” (lihat al-Majmu’ah al-Kamilah [1/35])

[5] Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata, “Banyak orang yang mengidap riya’ dan ujub. Riya’ itu termasuk dalam perbuatan mempersekutukan Allah dengan makhluk. Adapun ujub merupakan bentuk mempersekutukan Allah dengan diri sendiri, dan inilah kondisi orang yang sombong. Seorang yang riya’ berarti tidak melaksanakan kandungan ayat Iyyaka na’budu. Adapun orang yang ujub maka dia tidak mewujudkan kandungan ayat Iyyaka nasta’in. Barangsiapa yang mewujudkan maksud ayat Iyyaka na’budu maka dia terbebas dari riya’. Dan barangsiapa yang berhasil mewujudkan maksud ayat Iyyaka nasta’in maka dia akan terbebas dari ujub. Di dalam sebuah hadits yang terkenal disebutkan, “Ada tiga perkara yang membinasakan; sikap pelit yang ditaati, hawa nafsu yang selalu diperturutkan, dan sikap ujub seseorang terhadap dirinya sendiri.” (lihat Mawa’izh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, hal. 83 cet. al-Maktab al-Islami)

[6] Syaikh Zaid bin Hadi al-Madkhali hafizhahullah berkata, “Patut dimengerti, sesungguhnya tidak ada seorang pun yang meninggalkan ibadah kepada Allah melainkan dia pasti memiliki kecondongan beribadah kepada selain Allah. Mungkin orang itu tidak tampak memuja patung atau berhala. Tidak tampak memuja matahari dan bulan. Akan tetapi, sebenarnya dia sedang menyembah hawa nafsu yang menjajah hatinya sehingga memalingkannya dari beribadah kepada Allah.” (lihat Thariq al-Wushul ila Idhah ats-Tsalatsah al-Ushul, hal. 147)

[7] Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Tawakal adalah separuh agama. Oleh sebab itu kita biasa mengucapkan dalam sholat kita Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan). Kita memohon kepada Allah pertolongan dengan menyandarkan hati kepada-Nya bahwasanya Dia akan membantu kita dalam beribadah kepada-Nya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Kepada-Nya lah aku bertawakal dan kepada-Nya aku akan kembali.” (QS. Hud: 88). Tidak mungkin merealisasikan ibadah tanpa tawakal. Karena apabila seorang insan diserahkan kepada dirinya sendiri maka itu artinya dia diserahkan kepada kelemahan dan ketidakmampuan, sehingga dia tidak akan sanggup beribadah dengan baik.” (lihat al-Qaul al-Mufid ‘ala Kitab at-Tauhid [2/28])

[8] Syaikh al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Ibadah mencakup melakukan segala hal yang diperintahkan Allah dan meninggalkan segala hal yang dilarang Allah. Sebab jika seseorang tidak memiliki sifat seperti itu berarti dia bukanlah seorang ‘abid/hamba. Seandainya seorang tidak melakukan apa yang diperintahkan, orang itu bukan hamba yang sejati. Seandainya seorang tidak meninggalkan apa yang dilarang, orang itu bukan hamba yang sejati. Seorang hamba -yang sejati- adalah yang menyesuaikan dirinya dengan apa yang dikehendaki Allah secara syar’i.” (lihat Tafsir al-Qur’an al-Karim, Juz ‘Amma, hal. 15)

[9] Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata, “Ibadah adalah kecintaan dan tundukan secara total, disertai kesempurnaan rasa takut dan perendahan diri.” (lihat Tafsir al-Fatihah, hal. 49 tahqiq Dr. Fahd ar-Rumi)

[10] Abu Hafsh al-Farghani rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang mengakui [kandungan] Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in maka sesungguhnya dia telah berlepas diri dari paham Jabriyah dan Qadariyah.” (lihat al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an [1/224])

[11] Ibnu ‘Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Iyyaka nasta’in artinya hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan untuk taat kepada-Mu dan untuk segala urusan kami.” (lihat Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari [1/162])

[12] Sebagian salaf berkata, “Wahai Rabbku, aku heran dengan orang yang mengenalmu bagaimana mungkin dia justru berharap kepada selain-Mu. Aku heran dengan orang yang mengenalmu lalu mengapa dia justru memohon pertolongan kepada selain-Mu.” (lihat Rawa’i’ at-Tafsir, Tafsir Ibnu Rajab al-Hanbali, hal. 74)

Wallahu a’lam. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2013 in Dakwah, Kaidah Penting, Tafsir

 

Tag: , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: