RSS

Lebih Penting Mana, KPK atau KPS?

19 Feb

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Akhir-akhir ini, nama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sangat tenar dan hampir selalu muncul dalam pemberitaan media massa negeri ini. Semua orang pun ramai membicarakan pemberantasan korupsi. Sampai bapak-bapak di pelosok desa pun ikut membicarakan kasus korupsi yang marak diberitakan media belakangan ini.

Di sisi lain, sebenarnya ada sebuah lembaga yang sebenarnya juga sangat kita perlukan -terutama oleh umat Islam di negeri ini- yaitu apa yang kami sebut dengan istilah Komisi Pemberantasan Syirik (KPS). Sebuah komisi atau lembaga -mungkin berada di bawah naungan Majelis Ulama atau badan pemerintah semacam Departemen Agama- yang khusus menangani berbagai bentuk kemusyrikan yang menjalar di masyarakat.

Nah, kalau sudah menyinggung masalah ini, hampir bisa dipastikan bahwa kalangan yang pertama kali angkat suara menolak dibentuknya institusi semacam ini adalah para penyebar ajaran kekafiran itu sendiri. Jaringan Islam Liberal (JIL) adalah salah satu contoh konkretnya.    Kasus Ahmadiyah adalah salah satu bukti betapa kerasnya mereka (JIL) terhadap upaya-upaya pemberantasan kesesatan dan penyimpangan.

Padahal, jika kita mau jujur dan konsisten dengan agama kita -yaitu Islam- maka setiap muslim tentu menyatakan bahwa syirik adalah kejahatan dan kezaliman terbesar yang harus diberantas dan dilenyapkan dari atas muka bumi ini. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya syirik adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13)

Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu; Jika kamu berbuat syirik niscaya lenyaplah seluruh amalmu, dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang yang merugi.” (QS. Az-Zumar: 65)

Syirik inilah yang bertentangan dengan syahadat laa ilaha illallah yang setiap hari kita ikrarkan dan dikumandangkan oleh para mu’adzin di berbagai penjuru negeri ini. Syirik inilah yang bertentangan dengan ayat Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in yang selalu dibaca oleh kaum muslimin dalam setiap raka’at sholat mereka. Syirik inilah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah dan dosa besar yang paling besar; lebih besar dosanya daripada berzina, minum khamr, berjudi, mencuri, demikian pula korupsi!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya, dan masih mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik itu bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An-Nisaa’: 48)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, bukankah kita semuanya mendambakan negeri ini menjadi negeri yang aman dan tentram, negeri yang makmur dan berkeadilan, negeri yang mendapatkan limpahan berkah Allah dari langit maupun bumi? Tidaklah ada jalan untuk mengapai tujuan yang mulia itu kecuali dengan membersihkan tauhid umat Islam dari segala kotoran dan noda kemusyrikan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan, dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Sebesar apapun amal ketaatan dan kebaikan yang dilakukan oleh seorang hamba, namun jika hal itu dibarengi dengan kemusyrikan maka sia-sialah usahanya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan Kami hadapi segala amal yang dahulu mereka lakukan, lalu Kami jadika ia bagaikan debu yang beterbangan.” (QS. Al-Furqan: 23)

Setiap hari kita mengikrarkan laa ilaha illallah; tidak ada sesembahan yang benar selain Allah. Setiap hari kita juga membaca Iyyaka na’budu wa Iyyaka nasta’in; hanya kepada-Mu ya Allah kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.

Namun, di saat yang sama kita dengar sebagian saudara-saudara kita datang ke dukun dan paranormal. Di saat yang sama, kita dengar sebagian saudara-saudara kita berdoa kepada selain Allah dan meminta perlindungan kepada jin penunggu laut selatan, jin penunggu gunung, jin penunggu sungai, dan lain sebagainya. Di saat yang sama, kita dengar sebagian saudara kita menyembelih untuk selain Allah demi menolak bencana. Di saat yang sama, kita mendengar sebagian saudara kita masih memakai jimat dan pelet-pelet. Di saat yang sama kita mendengar sebagian saudara kita berebut kotoran hewan dan air cucian pusaka untuk mengharap berkah darinya. Padahal, mereka mengucapkan laa ilaha illallah!

Inilah tugas para ulama dan da’i, untuk melanjutkan estafet dakwah para nabi. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang rasul yang mengajak: Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” (QS. An-Nahl: 36). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus sebelum engkau -Muhammad- seorang rasul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwa tidak ada ilah/sesembahan yang benar selain Aku, maka sembahlah Aku saja.” (QS. Al-Anbiyaa’: 25)

Allah ta’ala pun memerintahkan kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam (yang artinya), “Katakanlah: Inilah jalanku, aku mengajak [umat] kepada Allah [tauhid] di atas bashirah/ilmu. Inilah jalanku dan jalan orang-orang yang mengikutiku. Dan Maha Suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf: 108)

Umat Islam berhak untuk menjalankan kehidupan beragama di negeri ini dengan nyaman dan tentram. Sebagaimana mereka bisa sholat dengan tenang, berpuasa dengan tenang, dan berhari raya dengan tenang, maka mereka pun berhak untuk beraqidah tauhid dengan tenang. Sebab, aqidah tauhid inilah yang menjadi pondasi ajaran Islam.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Maka barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, hendaklah dia melakukan amal salih dan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)

Semoga Allah memberikan taufik kepada para pemimpin kita terhadap apa yang Allah cintai dan ridhai. Semoga Allah memberikan taufik kepada mereka untuk mengikuti petunjuk-Nya. Semoga Allah menjaga mereka dari tipu daya para perusak agama. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 19, 2013 in Dakwah, Jalan Lurus, Pemurnian Ajaran

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: