RSS

Tidak Ada Hidayah dan Keamanan Tanpa Tauhid

14 Feb

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

Hidayah adalah sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh umat manusia. Tidak akan baik dan benar hidup mereka tanpanya. Hidayah adalah cahaya yang akan menerangi kegelapan dan mengentaskan manusia dari berbagai kehinaan. Hidayah merupakan petunjuk yang akan mengeluarkan manusia dari kebingungan dan kekacauan. Hidayah itu pula yang akan menuntun mereka kepada kebahagiaan dan keselamatan.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang mengikuti hidayah-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.” (QS. Thaha: 123)

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang rasul setelah tampak jelas baginya hidayah, dan dia mengikuti selain jalan orang-orang beriman, maka Kami akan membiarkan dia terombang-ambing dalam kesesatannya, dan Kami akan memasukkannya ke dalam Jahannam. Dan Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisaa’: 115)

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hidayah adalah pengetahuan tentang kebenaran yang disertai keinginan untuk mengikutinya dan lebih mengutamakan kebenaran itu daripada selainnya. Orang yang mendapat hidayah adalah orang yang melaksanakan kebenaran dan benar-benar menginginkannya. Itulah nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada seorang hamba. Oleh sebab itu Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan kita untuk meminta kepada-Nya hidayah menuju jalan yang lurus setiap sehari semalam dalam sholat lima waktu yang kita lakukan. Karena sesungguhnya setiap hamba membutuhkan ilmu untuk bisa mengenal kebenaran yang diridhai Allah dalam setiap gerakan lahir maupun batin. Apabila dia telah mengetahuinya dia masih membutuhkan sosok yang memberikan ilham kepadanya untuk mengikuti kebenaran itu, sehingga kemauan itu  tertancap kuat di dalam hatinya. Setelah itu, dia juga masih membutuhkan sosok yang membuatnya mampu melakukan hal itu. Padahal, sesuatu yang telah dimaklumi bahwasanya apa yang tidak diketahui oleh seorang hamba itu berlipat ganda jauh lebih banyak daripada apa yang sudah diketahuinya. Disamping itu, tidaklah semua kebenaran yang diketahuinya itu secara otomatis dikehendaki oleh jiwanya. Seandainya menghendakinya, tetap saja dia tidak mampu untuk mewujudkan banyak hal di dalamnya.” (lihat adh-Dhau’ al-Munir ‘ala at-Tafsir [1/25-26])

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa kehidupan tidak akan berjalan di atas dengan benar tanpa curahan hidayah dari-Nya. Seorang hamba tidak akan bisa membedakan kebenaran dan kebatilan tanpanya. Seorang hamba tidak bisa membedakan antara iman dan kekafiran tanpanya. Seorang hamba pun tidak sanggup membedakan jalan menuju surga -dan menempuhnya- dengan jalan menuju neraka -dan menjauhinya- tanpanya. Maka kebutuhan kepada hidayah adalah kebutuhan terhadap ilmu sekaligus bantuan dan taufik dari-Nya.

Semata-mata ilmu tidaklah mencukupi jika tidak disertai dengan amal dan perealisasiannya. Sementara hidayah ini -sebagaimana telah disebutkan dalam ayat al-An’am: 82 di atas- hanya diberikan kepada orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman. Mereka itu adalah orang yang bertauhid dan membersihkan dirinya dari segala bentuk kemusyrikan.

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata: Ketika turun ayat “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman (yaitu syirik), maka mereka itulah orang-orang yang akan mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan hidayah.” (QS. al-An’aam: 82). Maka, hal itu terasa berat bagi para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka pun mengadu, “Siapakah diantara kami ini yang tidak menzalimi dirinya sendiri?”. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak seperti yang kalian sangka. Sesungguhnya yang dimaksud adalah seperti yang dikatakan Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, janganlah kamu berbuat syirik. Sesungguhnya syirik itu adalah kezaliman yang sangat besar.” (QS. Luqman: 13).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syirik adalah kezaliman. Bahkan ia merupakan kezaliman yang paling besar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu berdoa kepada selain Allah, sesuatu yang jelas tidak kuasa memberikan manfaat dan madharat kepadamu. Kalau kamu tetap melakukannya kamu benar-benar termasuk orang yang berbuat zalim.” (QS. Yunus: 106).

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah mengutus para utusan Kami dengan keterangan-keterangan yang jelas dan Kami turunkan bersama mereka al-Kitab dan neraca agar umat manusia menegakkan keadilan.” (QS. Al-Hadid: 25)

Ibnul Qayyim berkata, “Allah subhanahu mengabarkan bahwasanya Dia telah mengutus rasul-rasul-Nya dan menurunkan kitab-kitab-Nya supaya umat manusia menegakkan timbangan (al-Qisth) yaitu keadilan. Diantara bentuk keadilan yang paling agung adalah tauhid. Ia adalah pokok keadilan dan pilar penegaknya. Adapun syirik adalah kezaliman yang sangat besar. Sehingga, syirik merupakan tindak kezaliman yang paling zalim, dan tauhid merupakan bentuk keadilan yang paling adil.” (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 145)

Beliau juga berkata, “Sesungguhnya orang musyrik adalah orang yang paling bodoh tentang Allah. Tatkala dia menjadikan makhluk sebagai sesembahan tandingan bagi-Nya. Itu merupakan puncak kebodohan terhadap-Nya, sebagaimana hal itu merupakan puncak kezaliman dirinya. Sebenarnya orang musyrik tidaklah menzalimi Rabbnya. Karena sesungguhnya yang dia zalimi adalah dirinya sendiri.” (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 145)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa syirik adalah sebab yang menghalangi turunnya hidayah kepada manusia. Tatkala mereka tidak mendapatkan hidayah yang sempurna, maka mereka pun terjerumus ke dalam berbagai penyimpangan. Penyimpangan-penyimpangan itulah -dan syirik termasuk penyimpangan yang terbesar- yang menjerumuskan manusia ke dalam cekaman ketakutan -kepada selain Allah- di dunia dan ketakutan yang senantiasa menyelimuti di akhirat nanti, yaitu alam kubur dan di neraka. Wal ‘iyadzu billah.

Hal ini juga menunjukkan kepada kita bahwa tauhid yang ada pada diri seorang hamba bisa tercampuri berbagai bentuk kezaliman, dan kezaliman terbesar yang akan menghapuskan tauhid dari dirinya adalah syirik. Dengan terhapusnya tauhid itu lenyaplah hidayah dan keamanan yang sangat dibutuhkan olehnya. Adapun apabila kezaliman yang dia lakukan tidak mencapai derajat syirik maka tauhidnya akan mengalami kerusakan sekadar dengan besar dosa atau kemaksiatan yang dia lakukan.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Februari 14, 2013 in Bersih Jiwa, Kaidah Penting, Tafsir

 

Tag: , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: