RSS

Betapa Berharganya Ilmu

23 Jan

Para ulama salaf sangat mengagungkan ilmu dan mencintai ahli ilmu. Karena ilmu adalah cahaya yang akan menerangi perjalanan hidup umat manusia. Dengan ilmu itulah seorang hamba akan bisa mewujudkan tujuan hidupnya. Dan dengan ilmu itu pula seorang hamba akan bisa menghindari murka Rabbnya.

Berikut ini, sebagian kecil nukilan ucapan dan kisah para ulama yang menunjukkan betapa besar penghargaan manusia terhadap ilmu agama dan para ulama.

Abdullah putra Imam Ahmad berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku, “Wahai ayah. Lelaki seperti apakah Syafi’i itu? Karena aku mendengar engkau sering mendoakan kebaikan untuknya.” Beliau menjawab, “Wahai anakku. Syafi’i itu seperti matahari bagi dunia dan keselamatan bagi umat manusia. Apakah untuk kedua hal ini ada sesuatu yang bisa menjadi pengganti atau cadangan atasnya?” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar oleh Imam adz-Dzahabi rahimahullah, hal. 47 dan Manaqib al-A’immah al-Arba’ah oleh Imam Ibnu Abdil Hadi rahimahullah, hal. 108)

Imam Abu Zur’ah rahimahullah berkata: Aku mendengar Qutaibah berkata, “Telah meninggal [Sufyan] ats-Tsauri maka matilah wara’ (sifat kehati-hatian). Telah meninggal pula Syafi’i dan matilah sunnah-sunnah (hadits). Dan meninggallah Ahmad bin Hanbal, sehingga merebaklah bid’ah-bid’ah.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 49 dan Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 115)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Menuntut ilmu lebih utama daripada sholat sunnah.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 61 dan Manaqib al-A’immah al-Arba’ah hal. 111)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Apabila aku melihat salah seorang As-habul Hadits seolah-olah aku sedang melihat salah seorang Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah memberikan balasan terbaik untuk mereka. Mereka telah menjaga dalil (hadits) untuk kita. Oleh sebab itu kita sangat berhutang budi kepada mereka.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 63 dan Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 118)

Imam Abu ‘Ubaid rahimahullah berkata, “Seorang yang setia mengikuti Sunnah laksana orang yang menggenggam bara api. Dan pada masa ini, aku memandang bahwa hal itu jauh lebih utama daripada menghunuskan pedang dalam jihad fi sabilillah.” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 79)

Muhammad bin Abi Hatim rahimahullah mengatakan: Aku mendengar Yahya bin Ja’far al-Baikandi berkata, “Seandainya aku mampu menambah umur Muhammad bin Isma’il (Imam Bukhari) dari jatah umurku niscaya akan aku lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang lelaki biasa. Adapun kematiannya berarti lenyapnya ilmu [agama].” (lihat Tarajim al-A’immah al-Kibar, hal. 118)

Abu Salamah al-Khuza’i rahimahullah berkata: Adalah Malik bin Anas, apabila beliau ingin berangkat untuk mengajarkan hadits maka beliau pun berwudhu sebagaimana wudhu untuk sholat. Beliau mengenakan pakaiannya yang terbaik dan memakai peci. Dan beliau pun menyisir jenggotnya. Tatkala hal itu ditanyakan kepadanya, beliau menjawab, “Aku ingin memuliakan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah oleh Imam Ibnu Abdil Hadi rahimahullah, hal. 87-88)

al-Haitsam bin Jamil rahimahullah berkata: Aku pernah mendengar Malik ditanya dengan 48 pertanyaan, maka beliau memberikan jawaban untuk 32 diantara semua pertanyaan itu dengan ucapan, “Aku tidak tahu.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 94)

al-Maimuni rahimahullah berkata: Aku mendengar Ahmad bin Hanbal pernah berkata, “Ada enam orang yang aku doakan kebaikan untuk mereka pada waktu sahur (menjelang subuh). Salah satunya adalah asy-Syafi’i.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 107)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Langit manakah yang akan menaungiku? Bumi manakah yang akan menjadi tempatku berpijak? Jika aku meriwayatkan suatu hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas aku tidak sependapat dengan hadits itu.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 113-114)

Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Semestinya seorang faqih (ahli agama) meletakkan tanah di atas kepalanya untuk merendahkan dirinya di hadapan Allah dan mengungkapkan rasa syukur kepada-Nya.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 117)

Ibnu Abi Hatim rahimahullah berkata: Aku mendengar ayahku -Abu Hatim- berkata, “Apabila kalian melihat seseorang yang mencintai Ahmad bin Hanbal, maka ketahuilah bahwa dia adalah pemegang teguh Sunnah.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 134, lihat juga ucapan serupa dari Qutaibah bin Sa’id dalam buku yang sama, hal. 141-142)

Abu Ja’far al-Mukharrami rahimahullah mengatakan, “Apabila kamu melihat seseorang yang menjatuhkan kedudukan Ahmad bin Hanbal, maka ketahuilah bahwa dia adalah mubtadi’/ahli bid’ah.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 135)

Imam Ibnu Abi Hatim rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari al-Warkani salah seorang tetangga Imam Ahmad bin Hanbal. Dia menceritakan, “Pada hari wafatnya Ahmad bin Hanbal masuk Islam lah dua puluh ribu orang Yahudi, Nasrani, dan Majusi.” (lihat Manaqib al-A’immah al-Arba’ah, hal. 158 dan Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 565)

al-Maimuni rahimahullah berkata: Ahmad bin Hanbal pernah berpesan kepadaku, “Wahai Abul Hasan! Berhati-hatilah kamu, jangan sampai engkau berbicara dalam suatu masalah yang engkau tidak memiliki imam dalam hal itu.” (lihat Manaqib al-Imam Ahmad oleh Imam Ibnul Jauzi rahimahullah, hal. 245)

Abul Qasim bin Mani’ rahimahullah berkata: Suatu ketika aku hendak pergi menemui Suwaid bin Sa’id demi sebuah keperluan. Kemudian, aku berkata kepada Ahmad bin Hanbal, “Apakah anda bersedia menuliskan surat rekomendasi bagiku kepadanya?”. Maka beliau pun menuliskan, “Beliau ini adalah seorang yang mencatat hadits.” Lalu aku bertanya kepadanya, “Wahai Abu Abdillah! Bagaimana dengan khidmat dan kesertaanku bersamamu; seandainya engkau tuliskan ‘Ini adalah salah seorang As-habul Hadits’?”. Maka beliau pun menjawab, “Seorang sohib/pemegang teguh hadits menurut pandangan kami adalah orang yang beramal dengan hadits.” (lihat Manaqib al-Imam Ahmad, hal. 285)

Demikianlah, sekelumit nukilan yang bisa disampaikan. Semoga bermanfaat. Walhamdulillaahilladzii bi ni’matihi tatimmush shaalihaat.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 23, 2013 in Keutamaan, Pelajaran Berharga, Ulama

 

Tag: , , , , , , , , ,

One response to “Betapa Berharganya Ilmu

  1. muhammad ali

    Januari 25, 2013 at 7:19 am

    Afwan Ustazd, berkahnya ilmu para ulama terdahulu masih terasa sampai kini dan mungkin sampai akhir zaman karena kegigihan mereka menuntut ilmu dan menghormati ulama. Namun zaman sekarang manusia lebih sibuk dengan dunia, hampir tidak waktu lagi untuk menuntut ilmu syar’i. Jazakallah khoiran

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: