RSS

Jihad vs Terorisme

26 Agu

Di masa kita sekarang ini istilah jihad telah diselewengkan maknanya oleh sebagian kelompok. Menurut mereka aksi-aksi terorisme berupa bom bunuh diri, pembunuhan orang-orang kafir tanpa alasan yang benar, dan menimbulkan kekacauan merupakan bagian dari jihad. Sesungguhnya ini adalah kenyataan yang sangat menyedihkan.

Islam rahmatan lil ‘alamin
Ajaran Islam adalah ajaran yang mendatangkan rahmat bagi umat manusia. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Tidaklah Kami mengutus engkau melainkan sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.” (QS. al-Anbiya’: 107). Ibnu Abbas menerangkan bahwa rahmat tersebut bersifat umum mencakup orang yang baik-baik maupun orang yang jahat. Barang siapa yang beriman kepada beliau -Nabi Muhammad- maka akan sempurnalah rahmatnya di dunia sekaligus di akhirat. Adapun orang yang kufur kepadanya maka hukuman -yang sesungguhnya- akan disisihkan darinya sampai datangnya kematian dan hari kiamat (lihat Zaad al-Masir [4/365] as-Syamilah)

Di antara bukti kasih sayang Islam kepada umat manusia adalah Islam tidak membenarkan penumpahan darah manusia tanpa alasan yang benar. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu membunuh nyawa yang diharamkan Allah -untuk dibunuh- kecuali dengan sebab yang benar.” (QS. al-An’am: 151). al-Baghawi menjelaskan bahwa di dalam ayat ini Allah mengharamkan membunuh seorang mukmin dan mu’ahad -orang kafir yang terikat perjanjian keamanan dengan umat Islam- kecuali dengan sebab yang benar yaitu sebab-sebab yang membuat orang itu boleh dibunuh seperti karena murtad, dalam rangka qishash -bunuh balas bunuh-, atau perzinaan yang mengharuskan hukuman rajam bagi pelakunya (lihat Ma’alim at-Tanzil [3/203] as-Syamilah)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membunuh seorang kafir yang terikat perjanjian -dengan kaum muslimin atau pemerintahnya- maka dia tidak akan mencium bau surga. Sesungguhnya baunya itu akan tercium dari jarak perjalanan empat puluh tahun.” (HR. Bukhari). al-Munawi menjelaskan bahwa ancaman yang disebutkan di dalam hadits ini merupakan dalil bagi para ulama semacam adz-Dzahabi dan yang lainnya untuk menegaskan bahwa perbuatan itu -membunuh orang kafir mu’ahad- termasuk perbuatan dosa besar (Faidh al-Qadir [6/251] as-Syamilah).

Demikian juga Islam tidak memperkenankan perilaku bunuh diri -meskipun dengan niat yang baik, yaitu untuk memerangi musuh- sebagaimana dalam firman-Nya (yang artinya), “Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri, sesungguhnya Allah Maha menyayangi dirimu.” (QS. an-Nisa’: 29). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang membunuh dirinya dengan sesuatu alat maka dia akan disiksa dengannya pada hari kiamat.” (HR. Muslim). Yaitu dia bunuh diri dengan alat untuk membunuh, meminum racun dan lain sebagainya (lihat Tuhfat al-Ahwadzi [6/435] as-Syamilah)

Berbuat dosa tapi mengharap pahala
Namun anehnya, orang-orang yang melakukan pengeboman dan aksi bunuh diri itu merasa bangga dan menganggap dirinya sebagai mujahid. Sesungguhnya ini merupakan hasil tipu daya syaitan kepada mereka. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah: Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi amalnya. Yaitu orang-orang yang sia-sia usahanya di dunia sementara mereka mengira telah melakukan sesuatu kebaikan dengan sebaik-baiknya.” (QS. al-Kahfi: 103-104). Ibnu Katsir mengatakan, “Sesungguhnya ayat ini berlaku umum bagi siapa saja yang beribadah kepada Allah namun tidak di atas jalan yang diridhai Allah. Dia menyangka bahwa dia berada di pihak yang benar dan amalnya akan diterima. Padahal, sebenarnya dia adalah orang yang bersalah dan amalnya tertolak.” (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim [5/151-152])

Mereka mencomot sebagian ayat dan memahaminya tidak sebagaimana mestinya. Mereka mengambil dalil yang samar (mutasyabih) dan meninggalkan dalil-dalil lain yang jelas dan tegas (muhkam). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dialah -Allah- yang telah menurunkan kepadamu Kitab suci itu, di antaranya ada ayat-ayat yang muhkam yaitu Ummul Kitab sedangkan yang lain adalah ayat-ayat mutasyabihat. Adapun orang-orang yang di dalam hatinya menyimpan penyimpangan/zaigh maka mereka akan mengikuti ayat yang mutasyabih itu demi menimbulkan fitnah dan ingin menyimpangkan maknanya…” (QS. Ali Imran: 7)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mustasyabihat maka mereka itulah orang-orang yang disebut oleh Allah -di dalam ayat tadi- maka waspadalah kamu dari bahaya mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dll). Penulis syarah Sunan Abu Dawud berkata, “Ayat ini -Ali Imran ayat 7- berlaku umum bagi semua kelompok yang melenceng dari kebenaran yaitu dari kalangan kelompok-kelompok bid’ah….” (Aun al-Ma’bud [10/117] as-Syamilah)

Jihad yang sebenarnya
Allah ta’ala berfirman, “Orang-orang yang sungguh-sungguh berjuang/berjihad di jalan Kami niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang berbuat baik/ihsan.” (QS. al-‘Ankabut: 69). al-Baghawi menyebutkan riwayat dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, beliau berkata tentang tafsiran ayat ini, “Yaitu orang-orang yang berjuang dengan sungguh-sungguh di dalam ketaatan kepada Kami niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan untuk meraih pahala dari Kami.” (Ma’alim at-Tanzil [6/256] as-Syamilah)

Ketahuilah saudaraku, sesungguhnya seorang mujahid sejati adalah orang yang menundukkan hawa nafsunya untuk melakukan ketaatan kepada Allah -termasuk di dalamnya adalah dengan memerangi orang kafir dengan cara yang benar-, bukan dengan melakukan perbuatan dosa dan pelanggaran. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berjihad adalah orang yang berjuang menundukkan dirinya dalam ketaatan kepada Allah.” (HR. Ahmad, as-Shahihah [549] as-Syamilah). Maka jelaslah bahwa terorisme bukan jihad. Terorisme sama artinya dengan menimbulkan kekacauan dan kerusakan di muka bumi. Sementara Allah tidak menyukainya. Allah berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang menebarkan kerusakan.” (QS. al-Qashash: 77)

Reaksi yang keliru
Sebagian orang yang telah termakan oleh pemberitaan media massa yang tidak tepat menganggap bahwa lelaki yang berjenggot dan bercelana di atas mata kaki atau perempuan yang mengenakan cadar adalah bagian dari jaringan teroris. Padahal, anggapan semacam itu adalah anggapan yang kekanak-kanakan.

Semata-mata memiliki jenggot atau mengenakan cadar jelas tidak ada hubungannya dengan terorisme. Tidakkah kita ingat bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kaum lelaki untuk memelihara jenggot? Nabi pun menegaskan bahwa mengenakan pakaian yang melebihi mata kaki adalah terlarang, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari. Tidakkah kita juga ingat bahwa para isteri Nabi pun mengenakan cadar? Apakah dengan penampilan seperti itu kemudian kita mengatakan bahwa Nabi dan isteri-isterinya terlibat dalam jaringan teroris?! Tentu saja anggapan yang demikian itu tadi adalah sesuatu yang terlalu berlebihan, bahkan mengada-ada.

Saudaraku sekalian, sesungguhnya kemuliaan Islam ini akan ternoda tatkala orang yang bukan ahlinya berbicara tentang ajaran agama. Tidakkah kita ingat firman Allah ta’ala (yang artinya), “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, itu semua pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.” (QS. al-Isra’: 36). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh dengan penipuan. Ketika itu pendusta dibenarkan sedangkan orang yang jujur malah didustakan, pengkhianat dipercaya sedangkan orang yang amanah justru dianggap sebagai pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa yang dimaksud Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.” (HR. Ibnu Majah, Shahihah [1887] as-Syamilah).

Tetaplah menimba ilmu dan mencari kebenaran
Dengan menyaksikan realita yang memilukan ini maka sudah semestinya kaum muslimin semakin meningkatkan semangat mereka untuk mengkaji ilmu agama dan berupaya untuk mengamalkannya. Sebab dengan cara itulah jalan ke surga akan menjadi mudah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki menjadi baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Beliau juga mengatakan, “Barang siapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu -agama- maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga.” (HR. Muslim). Untuk bisa membedakan apakah suatu bentuk pemahaman benar atau tidak maka ilmu agama sangat diperlukan. Siapa saja membutuhkannya, entah itu polisi, pejabat Negara, pedagang, guru, karyawan, maupun mahasiswa, tidak terkecuali para ustadz, da’i dan kyai.

Dengan mengkaji al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar itulah kita akan mendapatkan jawaban atas permasalahan yang kita hadapi dan terbebas dari kesesatan berpikir. Sebaliknya, orang yang meninggalkannya akan binasa. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barang siapa yang terus mengikuti petunjuk-Ku maka tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Tapi barang siapa yang berpaling dari peringatan-Ku maka dia akan mendapatkan penghidupan yang sempit dan kelak Kami akan menghimpunnya dalam keadaan buta. Orang itu berkata, ‘Wahai Rabbku mengapa Engkau himpunkan aku dalam keadaan buta, padahal dulu aku melihat?’. Maka Allah jawab, ‘Demikian itulah balasan yang layak kamu terima. Telah datang kepadamu ayat-ayat Kami namun kamu sengaja melupakannya, maka demikian pula pada hari ini kamu dilupakan.’.” (QS. Thaha: 123-126)

Allah akan memuliakan orang yang mempelajari al-Qur’an dan as-Sunnah serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Beliau juga bersabda, “Sesungguhnya Allah akan mengangkat derajat sebagian orang dengan sebab Kitab suci ini dan akan menghinakan sebagian yang lain karenanya pula.” (HR. Muslim). Semoga tulisan yang ringkas ini bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin [Ari Wahyudi].

Iklan
 
18 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 26, 2009 in Pemurnian Ajaran

 

Tag: , , , ,

18 responses to “Jihad vs Terorisme

  1. saputra

    Agustus 27, 2009 at 12:41 am

    assalamu alaikum wr.wb
    terima kasih artikelnya bagus…..!!!!
    izin Copy paste buat Forum….^^

     
  2. Ari Wahyudi

    Agustus 27, 2009 at 3:43 am

    wa’alaikumussalamwarahmatullah, silakan

     
  3. salafiyunpad

    Agustus 27, 2009 at 9:55 am

    Jazakallahu khaira akhi…

     
  4. abu_syaef

    Agustus 27, 2009 at 8:21 pm

    terima kasih banget..artikel yang bagus

     
  5. Awam

    Agustus 29, 2009 at 8:27 am

    Melihat berbagai kemaksiatan yg ttp brlngsng di tmpt2 hiburan pd bulan puasa, tindakan sok jagoan dari FPI yg mengklaim jihad sngt disayangkan tp tindakan acuh jg tdk brtnggjwb. Bgmn menurut anda?

     
  6. Mukhlis

    Agustus 29, 2009 at 10:57 am

    Izin kofi ya..
    Terima kasih, bgs artikelnya..
    Hal ini memang perlu disampaikan kepada saudara” kt yg tidak mengetahui..

     
  7. Ari Wahyudi

    Agustus 29, 2009 at 6:28 pm

    Semua muslim punya tanggung jawab untuk mengubah kemungkaran sesuai dengan kapasitas dan wewenangnya, minimal dengan hati yaitu dengan membencinya. Barang siapa yang mampu mengubah dengan lisan namun dia tidak melakukannya maka dia bersalah, demikian juga yang mampu mengubah dengan tangan namun tidak melakukannya -sementara tidak ada mafsadat yang lebih besar akibatnya- maka dia pun bersalah. Itulah sebagaimana yang dijelaskan oleh para ulama. Semoga Allah menolong kita dalam taat kepada-Nya, Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengabulkan doa

     
  8. Ari Wahyudi

    Agustus 29, 2009 at 6:31 pm

    silakan

     
  9. Abdulrahman

    Agustus 31, 2009 at 12:30 am

    aslmakm, dalam al quran jihad itu perang, jelas…dan satu hadist menyatakan jihad salah satunya melawan hawa nafsu, saya 100% tdk setuju dgn para teroris, karna Islam adalah agama rahmatan lil alamin, maksud saya… jgn menyamarkan/melemahkan kaedah yang utama dari kata jihad…trmksh..

    saya beristighfar jika saya salah….Ampuni ya Allah…

     
  10. abukhonsa

    September 2, 2009 at 9:53 am

    sukron
    ijin ntuk copy ya..

     
  11. habibi

    September 9, 2009 at 8:32 am

    assalamu alaikum. mohon izin untuk di copy, untuk kepentingan pengetahuan…makasih. wssalam

     
  12. Ari Wahyudi

    September 9, 2009 at 6:32 pm

    wa’alaikumussalamwarahmatullah, silahkan

     
  13. shinta

    September 14, 2009 at 5:40 pm

    assalamualaikum…wah…artikelx bgus bgt..bleh d copy kan???ne bwt kpntingan dakwah kok…makasih

     
  14. hendy didit

    Agustus 19, 2011 at 4:06 pm

    Alhamduhlilah…masih ada artikel yang bermutu

     
  15. hendy didit

    Agustus 19, 2011 at 4:25 pm

    Alhamduhlilah…ijin saya mau mengcopi…kapan ya kita dan semua teman 2 berkumpul utk diskusi agama yang lainnya

     
  16. nurul

    Oktober 8, 2011 at 11:27 am

    Assalamu’alaikum wr,wb….sangat membantu akhi…ijin copas untuk bahan presentasi :)

     
  17. Ari Wahyudi

    Oktober 16, 2011 at 8:26 am

    wa’alaikumussalam, silahkan

     
  18. agus

    November 12, 2012 at 2:31 pm

    Assalamualaikum.
    Mohon izinnya untuk di copy dan diposting di blog kami.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: