RSS

Kejujuran seorang Doktor

16 Apr

Berikut ini ceramah salah seorang Doktor yang sangat menginginkan kebaikan bagi saudara-saudaranya -yang kini telah mabuk dengan khamr demokrasi-, sungguh sebuah kejujuran dan pengakuan yang tulus dari seorang tokoh pergerakan mengenai rusaknya manhaj haraki dalam mengatasi problematika umat di negeri ini… Allahul musta’an.

Dr. Daud Rasyid MA -semoga Allah menambahkan petunjuk kepadanya- (KIK Al Hikmah tanggal 16 November 2008)

Ba’da tahmid wa sholawat

Ayyuhal muslimuun, ikhwah fillah yang dirahmati Allah, syukur alhamdulillah yang tidak henti-hentinya kita panjatkan kehadirat Allah SWT -subhanahu wa ta’ala- yang masih meneguhkan semangat kita walaupun dari sana sini SMS ataupun panggilan ataupun lobi-lobi untuk orang-orang tertentu agar tidak ikut dan tidak berhubungan dengan forum kader peduli, tetapi ternyata alhamdulillah ana lihat mesjid ini, dari sejak pertemuan yang lalu bahkan makin penuh. Ada apa ini, antum ini semua? Makin ditakut-takuti makin penuh, makin banyak yang hadir. Sebenarnya ini menunjukkan sebuah kerinduan kepada asshoolatudda’wah (orisinalitas dakwah).

Kita ingin kembali kepada materi-materi yang dulu kita pelajari sejak awal. Al walaa-u lillaah, al baroo’ ‘an kulli ath-Thowaghit. Berpihak kepada Allah. Innama waliyyukumullaahu warrasuuluhu walladziina aamanu, sesungguhnya wali kamu itu adalah Allah, rasulNya dan orang-orang beriman.

Sekarang sudah menjadikan pahlawan orang-orang yang tak jelas arah hidupnya. Dijadikan sebagai tokoh, sebagai wali. Diangkat nama-nama orang yang dalam sejarah telah tercatat permusuhan mereka itu kepada Islam.

Kenapa dulu syari’at Islam terganjal pada tahun 45? Dalam Piagam Jakarta, kita semua tahu sejarah. Padahal pada waktu diproklamasikannya itu kemerdekaan, dasar-dasar daripada negara ini, itu didasarkan kepada Undang-undang Dasar 45 yang mengacu kepada Piagam Jakarta. Yang intinya, ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya. Tanggal 18, sehari, berubahlah itu, dicoretlah itu. Oleh siapa? Kelompok nasionalis yang kita tahu siapa. Mereka inilah yang ditokohkan sebagai pahlawan sekarang dan dalam iklan-iklan di televisi itu.

Jadi kita ini berubah 180 derajat, dari sebuah jama’ah (kelompok) umat Islam yang ingin mengerahkan wala’ nya kepada Allah menjadi berwala’ kepada syaithon dan thowaaghiit. Na’udzubillaahi min dzalik. Kita tidak mau. Saya yakin inilah yang mendasari kehadiran antum.

Sebenarnya ikhwah fillah, ana mencium perubahan ini sudah sejak awal, pada waktu adanya mukernas di Depok, di mana diundang berorasi bekas musuh kita — yang sudah meninggal — tokoh sekuler di Indonesia. Antum masih ingat? Disuruh, diminta, dihormati, diagungkan untuk berorasi. Saya tidak perlu sebut nama, karena antum semua sudah tahu, betul ndak?

Pada waktu itu hari Jum’at. Ana gak habis pikir, pusing kepala. Apa dasarnya ini orang diundang? Yang dulu kita ludahi, yang dulu kita hujat sebagai tokoh sekuler, tiba-tiba disambut, dihormati, diagungkan seperti guru. Laa hawla wala quwwata illa billaah. Pada saat itu betul-betul ana, secara pribadi, hati ini tersayat-sayat. Seperti meludah, dijilat kembali ludahnya.

Oleh karena itu, pada saat itu, ana ingat kembali ini ceritanya. Begitu dia naik, ana langsung keluar. Ditahanlah ana oleh tiga orang. “Ustadz, ustadz, tunggu dulu, sebentar saja ustadz!”

“Oh tidak ada. Tidak pantas bagiku untuk menghormati, menghadapi muka orang yang dulu memusuhi Islam. ”

Waktu itu dia diagungkan, dijadikan rujukan sebagai bapak intelektual Indonesia. Dan seperti orang yang mengilhami gerakannya yang disebut dengan partai da’wah.

Dari situ saja, waktu itu, saya sudah mulai membayangkan, ini bagaimanapun ke depannya akan menjadi kelompok sekuler. Sudah mulai hilang rambu-rambu yang dipelajari, al walaa-u lillaah. Maka hari demi hari makin menunjukkan. Betul kata salah seorang ikhwah kita di dalam forum SMS itu, hari-hari ini belakangan terus akan memberitahukan kepada engkau, apa yang dulunya engkau tak tahu. Apa yang dulunya masih tertutup rahasia, hari ke depan akan makin lama makin tersingkap rahasia tabir-tabir yang dulu tersembunyi.

Kita mengira bahwa kita itu berjalan di atas sebuah thariiqudda’wah yang shahihah, thariiqul anbiya wal mursaliin, ‘ibadatullaahi wahdah, al kufru liththaghuut. Tetapi ternyata belakangan kitapun diajak berdamai, cair, lemah lembut. Menunjukkan wajah yang senyum kepada orang-orang mujrimin yang menghancurkan negara ini, yang menjual negara ini. Kitapun disuruh untuk berbaik-baik kepada mereka. Bagaimana mungkin seorang kader da’wah bisa menerima seperti itu?

Oleh karenanya ikhwah fillaah rahimakumullaah, mari kita tetap berpegang. Perbanyak antum tilawatil Qur’an, insyaAllah orang-orang yang terus senantiasa berpegang kepada kitabullah, ini tidak akan mau tergelincir. “Laa tajtami’u ummati ‘ala dhalaalah”, kata nabi kita SAW -shallallahu ‘alaihi wa sallam- . “Tidak akan mungkin ummatku bersatu dalam sebuah kesesatan.”

Jadi mudah-mudahan kita ini penyelamat agar saudara-saudara kita yang lain tidak sampai sesat. Kita ini sebagai pengontrol mereka. Sekali lagi kita ingin tegaskan, kita ini bukan mau merebut sebuah qiyadah. Apa yang mau direbut? Kita ndak punya kemampuan apa-apa. Kita ini bukan mau mengganjal, kita ini bukan mau menggagalkan, tidak. Tetapi jalan da’wah yang sudah dari awal dibangun secara benar, ini jangan sampai miring, seperti orang yang mabuk, tidak lihat jelas jalannya yang mana yang harus ditempuh, ke kiri atau ke kanan. Kita tidak mau seperti itu, karena semuanya kita ini punya patokan, punya dasar kitabullah, sunnah rasulillah. Tidak akan lahir mujtahid-mujtahid baru yang akan mempunyai ta’wil-ta’wil untuk menjustifikasi kebijakan-kenijakan yang nyeleneh dan kontroversial. Tidak bisa itu, dan itu tidak akan kita biarkan. Dan kalau kita tetap dituduh sebagai orang-orang yang ingin menggembosi, yang ingin menciptakan jama’ah baru, biarlah mereka nanti tahu bahwa kita tidak punya keinginan untuk membuat apa-apa yang baru. Kita hanya ingin meluruskan jalan yang sudah ada.

Oleh karenanya mereka seharusnya membuka hati dan harusnya mereka itu berterimakasih ada yang mengingatkan. Kan begitu seharusnya? Mereka harusnya ruju’ kepada yang benar. Berterimakasih, bukan justru menteror, beberapa saudara kita diteror lewat SMS, dan seterusnya dan seterusnya. Maka oleh karena itu, kita tidak akan berhenti dalam menegakkan amal amru bil ma’ruf wan nahi ‘anil munkar, kapanpun dan di manapun.

Dan kita yakin, insyaAllah, dengan do’a-do’a kita, kita berdo’a agar ikhwah kita akan kembali seluruhnya ke jalan yang benar. Dan kita tidak perlu berdo’a agar mereka celaka, tidak. Mereka itu sedang menghadapi sebuah cobaan yang disebut dengan dunia. Supaya mereka sadar akan cobaan itu, dan tidak larut tergelincir, akhirnya mereka pun terpental dari jalan da’wah. Nanti, akhirnya yang disebut oleh Said Hawwa,al mutasaqithuuna fii thariiqidda’wah, jangan dibalik, jangan dibilang kita ini orang-orang yang berguguran di jalan da’wah. Sekarang ada pemutarbalikan istilah, orang lurus dibilang bengkok, yang bengkok dibilang lurus. Ini berarti kacamata sudah tidak benar. Kalau kacamata sudah tidak benar, itu memang betul. Hitam kelihatan putih, putih kelihatan hitam.

Jadi oleh karenanya, sekali lagi, mari kita tamassuk bi kitabillaah. Apa yang dulu biasa kita lakukan, tilawatil Qur’an adalah merupakan tugas seorang akh untuk berusaha mengkhatamkan Qur’an itu minimal satu bulan sekali. Ini adalah tugas-tugas kita sebagai akh di dalam jama’ah ini. Begitu juga ikhwah, kita menghidupkan sunnah, jangan kita anggap kecil, sepele sunnah-sunnah. Sunnah-sunnah nabi itu semuanya mulia. Rasulullah sudah berpesan kepada kita, jangan kamu anggap sepele. “Taroktu fiikum Amroini, Maa intamassaktum bihima Lan tadhillu ba’di abada”. Biar orang lain menyepelekan sunnah, menganggap bahwa dirinya sudah berubah, kita sudah maju, kita sudah meninggalkan masa lalu.

Oh tidak, kita tetap katakan, kita ini tetap dulu seperti yang dulu juga. Kapanpun dan di manapun kita hidup, tetap saja manhaj yang kita pakai manhaj yang lama. Manhajudda’wah anbiya wal mursaliin yang mengajak orang kepada ‘ibadatullaah, al waahidil qahhaar. Ikhwah fillah rahimakumullah, kalaupun awalnya kita mau berpartai tujuannya adalah untuk mengajak orang menyembah Allah, bukan mau mencari kekuasaan. Tak ada gunanya mencari kekuasaan. Apa gunanya kekuasaan kalau akhirnya membuat kita celaka. Karena Allah pun mengatakannya dalam al Qur’an
“Wa ‘adallaahulladzina amanu minkum wa ‘amilushshaalihaati, layastakhlifannahum fil ardhi, kamastakhlafalladzina min qablihim, wa layumakkinanna lahum diinahumulladzirtadha lahum, wa layubaddi lannahum min ba’di khawfi him amna ; ya’buduunani la yusyrikuuna bi syai-an”

Allah menjanjikan kepada orang beriman dan beramal sholeh. Antum ndak usah ribut, pusing kepala cari kekuasan. Itu sudah janji Allah, akan dikasihnya. Ndak usah sampai kamu mengorbankan idealisme menjual tokoh-tokoh orang. Akhirnya sekarang yang punya tokoh pada marah semua. Malu tidak itu? Malu sekali. NU nya marah, Muhammadiyahnya marah, orang nasionalisnya marah. Sudah tidak ada harga diri lagi. Tokoh orang disanjung-sanjung seolah-olah tidak punya tokoh kamu itu.

Padahal kita itu, qudwatuna Rasulullah SAW -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kita tidak perlu kepada tokoh-tokoh. Semua tokoh itu ada cacatnya, betul tidak? Yang bersih dari cacat Rasulullah SAW -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kenapa kamu sibuk menokohkan orang? Semua mereka itu punya cacat, yang cacatnya itu tidak tanggung-tanggung.

Oleh karenanya, kita kembali kepada manhaj, Allaahu ghayatuna, warrasul qaa’iduna. Rasulullah itu pemimpin kita yang insyaAllah tidak akan ada sesuatu yang negatif pada diri Rasulullah SAW -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kenapa kita sibuk mencari tokoh di luar tokoh yang sudah diajarkan kepada kita?

Kembali kepada ayat yang tadi, Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan beramal sholeh, akan diberinya kekuasaan. Nah ini dia… Jadi kamu tidak usah pusing, sibuk, menjilat ke sana ke mari mencari perhatian orang. Ada pepatah Arab, “Kullun yadda’i hubban bi Laila, wa Laila la tuqirru bi wahid”, Semua laki-laki mengatakan Laila cinta pada saya, tetapi Laila tidak pernah mengakui satu orangpun diantara mereka. Malu sekali.

Jadi Allah akan memberikan yang namanya kekuasaan itu, layastakhlifannahum, istikhlaaf, sebagaimana yang diberikannya kepada ummat sebelum kamu, wa layumakkinanna lahum diinahumulladzirtadha lahum, akan memberikan tamkiin, akan memantapkan posisi diin ini di muka bumi, kemudian wa la yubadilannahum min ba’di khawfi him amna, akan diganti Allah rasa takut menjadi rasa aman, tapi syaratnya apa? ya’buduunani la yusyrikuuna bi syai-an.

Sekarang kita itu sudah mulai menyerempet-nyerempet ke syirik, betul tidak? Mengakui nasionalisme yang dibuat oleh orang-orang nasionalis yang tidak mengenal Allah, yang tidak bertauhid kepada Allah Ta’ala. Jadi kita sudah mulai nyerempet ke situ. Yang tadinya faham tentang tauhid, yang tadinya memusuhi syirik tapi sekarang sudah berubah. Bagaimana kita mau mendapatkan kekuasaan dari Allah Ta’ala? Yakin ana gak bakalan. Tidak bakal dikasih Allaah Ta’ala itu. Karena sudah dikatakan demikian, “ya’buduunani la yusyrikuna bi syai-an”. Mereka menyembah Aku dan tidak mensekutukan Aku dengan segala sesuatu apapun.

Oleh karena itu, apapun namanya kita ini, mau jam’iyah mau jama’ah mau hizbiyyah, tugas kita adalah mengajak orang untuk ‘ibadatillaahi wahdah. Sekarang sesudah jadi partai, berani gak mengajak orang ke tauhid? Berani gak mengajak orang supaya menyembah Allah? Tidak berani. Sesudah jadi partai akan berbicara dengan bahasa-bahasa politik.

Dipikir mereka, mereka akan bisa diberikan Allah kekuasaan. Oh tidak. Jadi selama kita tidak menempuh jalur, manhaj, cara, thariiqah yang dilakukan oleh para pendahulu kita dari ummat ini, maka Allah tidak akan kasih. Kalaupun dikasihNya nanti, ya kekuasaan yang akhirnya menghancurkan kita. Ada yang mau? Saya yakin semua kita tidak akan mau. Gara-gara kekuasaan iman kita tergadai. Gara-gara kekuasaan aqidah kita larut. Gara-gara kekuasaan yang haram menjadi halal. Tidak, lebih bagus kita tidak punya kekuasaan

Ikhwah fillah rahimakumullah, jadi pertemuan kita ini sebenarnya ingin menghidupkan kembali apa yang dulu, yang biasa kita pelajari. Syahadatain, memantapkan makna syahadatain itu kembali. Di mana lagi ada pengertian ilaah al marghuub fihi? Sudah ndak ada lagi itu materi-materi seperti itu. Pertemuan-pertemuan hanya dicekoki dengan pilkada di sini, pilkada di sana, menghadapi 2009, yang tidak ada hubungannya dengan keimanan.

Oleh karenanya banyak para ikhwah itu mengeluh, datang ikut liqo tetapi iman tidak terasa bertambah. Bahkan pulang liqo, pusing kepala. Kalau dulu datang liqo, pulang, semangat keimanan membara, kecintaan kepada Allah SWT -subhanahu wata’ala-. Sehingga habis malam itu dihabiskan untuk sujud kepada Allah dan berdiri di hadapan Allah. Sekarang, karena terlalu larut malam membicarakan masalah agenda-agenda, pulang tengah malam, tidur, subuhpun lewat. Apakah begitu kader da’wah?

Jadi oleh karenanya ikhwah fillah rahimakumullah, biarpun sebagian saudara kita menuduh ini sebuah upaya untuk menggembosi, kita katakan kepada mereka, tidak ada penggembosan. Yang ada adalah penyadaran. Ana, antum semua, mari kita sama-sama menyadarkan saudara-saudara kita yang sedang larut dengan dunia. Kembalilah wahai ikhwah ke jalan yang benar, dan kami semuanya saudaramu. Tidak ada keinginan diantara kami untuk memecah-belah dan untuk menimbulkan permusuhan. Apabila kembali jama’ah ini kepada khithah yang aslinya, insyaAllah, Allah akan memberikan kemenangan itu di luar yang kita perhitungkan.

Allaahu akbar!

Catatan : Tulisan ini bisa dibaca di buku Pak Hartono Ahmad Jaiz ‘Rekayasa Pembusukan Islam’, penerbit Nahimunkar. Dan ia bersumber dari milis dan blog kader-kader PKS sendiri, di antaranya Forum Kader Peduli. Insya Allah bisa dipercaya keotentikannya.

Iklan
 
24 Komentar

Ditulis oleh pada April 16, 2009 in Kisah

 

Tag: , , ,

24 responses to “Kejujuran seorang Doktor

  1. Abu Zaid

    April 16, 2009 at 10:00 am

    hadahumullah….

    semoga mereka bisa sadar…

     
  2. ITA /Ummu Rumaisha

    April 16, 2009 at 10:40 am

    semoga Allah…memberikan furqon kepada para aktivis partai PKS..
    dan mengetuk pintu hati mereka agar dapat menelaah kembali manhaj para nabi dalam berdakwah…yakni dakwah tauhid…

    apakah mereka berpikir…betapa jauhnya mereka dari syariat Islam yg haq semenjak mereka mendirikan partai???

    al Faqir illa Maghfirati Rabbihi…

     
  3. Abu Farhan

    April 16, 2009 at 5:52 pm

    Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    Afwan akh, bisa diganti SAW nya menjadi lengkap.

     
  4. Ari Wahyudi

    April 16, 2009 at 6:47 pm

    wa ‘alaikumussalam warahmatullah wabarakatuh, iya akh jazakallah khairan atas nasehatnya, barusan sudah ana perbaiki…

     
  5. l5155st™

    April 16, 2009 at 7:48 pm

    subhanallah…nasehat yang baik.

    terima kasih telah memposting-nya akh..

     
  6. abu hana

    April 17, 2009 at 7:49 am

    Hal ini memang sudah tersebar beritanya- dimana pks pecah menjadi blok timur dan barat. Sehingga didirikan forum kader peduli (fkp). Ana dengar langsung dari salah seorang kader pks senior.
    salah satu beritanya- bahwa ada sekjen pks yang menginginkan digelarnya maulid nabi se-jabodetabek, tapi dilarang oleh majelis syuro-nya mereka (salah satunya beliau diatas) dikatakan bahwa maulid adalah bid’ah. Tapi yang terjadi maulid tetap jalan terus… lahaula wala quwwata ila billah

     
  7. Ari Wahyudi

    April 17, 2009 at 8:54 am

    Kita berharap para ikhwah dari PKS kembali ke pangkuan Ahlus Sunnah. Semoga Allah membukakan hati mereka untuk menerima kebenaran.

     
  8. qanitah

    April 18, 2009 at 6:06 am

    ana dulu pernah menjadi kader partai ini, ketika mendekati pemilu kebanyakan acara liqo’ diisi dengan topik pemilu, alhamdulillah Allah kemudian tunjukkan manhaj yang benar sehingga ana sadar betapa jahilnya ana dahulu.
    Semoga teman2 pks semua segera kembali kepada manhaj salafus shalih yang lurus. Kami semua saudara-saudari mu sesama Muslim yang hanya ingin menasihati di dalam kebenaran. Yuk sama2 berjuang, berdakwah di bawah manhaj para pendahulu kita…semoga Alloh berikan kemenangan kepada kita. amin

     
  9. Salman Al-Faris

    April 18, 2009 at 1:31 pm

    Allahu Akbar….!!!

    Kembalilah wahai saudaraku….

     
  10. abu yusuf

    April 19, 2009 at 6:32 pm

    Bismillah,

    Untuk saudaraku yang terlanjur larut dalam demokrasi

    Coba resapi dalam-dalam QS. Al Anfal : 53…
    Niscaya akan kita temukan solusi untuk memperbaiki kondisi umat ini.

    Wallohu ta’ala a’lam

     
  11. ABI FAQIH AL FAUZI

    April 22, 2009 at 12:13 pm

    Semoga Alloh senantiasa memberi petunjuk kepada kita semua Amien….
    JAZAKUMULLOH KHOIRON JAZAA

     
  12. Bendol

    Mei 1, 2009 at 5:01 pm

    assalamu’alaikum

    akhi.. kok sepertinya sama saja ya… boleh jadi memang saudara haroki kita itu pecah. tapi kok dalam milisnya (FKP) masih saja ada tulisan yang mencela mantan penguasa orba yang sudah meninggal???

    bagaimana ini…
    minta pencerahan

     
  13. Ari Wahyudi

    Mei 2, 2009 at 7:21 am

    wa’alaikumussalamwarahmatullah, afwan akhi ana juga gak tahu banyak tentang mereka. Yang jelas menasihati orang2 seperti mereka butuh kesabaran. Orang -muslim- sudah meninggal ya kita doakan saja supaya diampuni Allah kesalahannya.

     
  14. yosia

    Mei 23, 2009 at 3:05 pm

    mantabb mas ari… :)

     
  15. atikah jabalhaq

    Agustus 10, 2009 at 8:30 pm

    harta tahta kadang membuat membuat mata menjadi buta…..adakah dapat ditemukan kembali kader dawah yang zuhud,tawadhu,tidak silau dengan harta?

     
  16. Abu Abdillah

    September 17, 2009 at 5:56 am

    Assalamu’alaikum,
    Mohon izin men-download dan men-distribukan artikel ini

     
  17. Ari Wahyudi

    September 17, 2009 at 9:54 pm

    wa’alaikumussalamwarahmatullah, silahkan digunakan dengan sebagaimana mestinya

     
  18. totok

    September 24, 2009 at 11:37 am

    Assalamu’ alaikum wr.wb.
    ana tidak kaget lagi setelah intens kajian, bahwa yang namanya hizbiyah tetap akan menomorsatukan kelompoknya. Suatu hal yang sangat meyakinkan bahwa tidak akan mungkin pks untuk memperjuangkan pembrantasan TBC (tahayul, Bid’ah dan Churafat). Wong yang dikejar kedudukan politik koq diharap kembali ke sunnah. Dan inilah ciri hizbiyah tersebut.Kader PKS lebih jago ngomong politik daripada mau belajar sunnah..bro.. but kita PKS JUGA LHO tapi Pusat Kajian Sunah yang anti bid’ah dan syirik.. bukan pembela syirik dan bid’ah..he..he..he
    Wassalamu ‘alaikum wr. wb

     
  19. sapani

    Oktober 21, 2009 at 11:16 am

    semoga semua warga indonesia dan manusia bisa sadar dan kembali kepada Allah (gak cuma pks dan non-pks), fii kulli makan. amin.

     
  20. Sudiroe Elang

    Agustus 30, 2012 at 1:40 pm

    izin copy nggih

     
  21. ummuhafiy

    November 11, 2012 at 8:26 am

    alhamdulillah kami g sendiri….
    bukan hanya kami yg merasa bahwa pks bnyk berubah…..

    dari tulisan diatas..
    saya juga pernah dibilang… orang orang yg gugut dijalan Allah…
    lantas saya katakan….
    apakah jln dakwah itu hny kalian… dan yg lain bukan….

     
  22. Muh Ardian Subroto

    Februari 4, 2013 at 1:56 am

    Sebenarnya antm “mencoba lari” dari tema, makanya kelit
    gaya seperti itu sdh “basi” akhi, bukankah nasrani teman seperjuangan kalian di partai?

    Gmn mau keras wong tokoh kalian doyan ngucapin natal.

    Saya katakan kpd antm bhw ucapan para pendiri seperti
    Mashadi, Abu Ridha, Dr Daud Rasyid, Yusuf Supendi, dll LEBIH ILMIAH daripada
    PEMBELAAN antm thd PKS sekarang. Dan para pendiri tentu lbh paham dibanding
    antm yg bahkan “baru lahir” shg cuma bisa ngekor dan taklid buta.

     
  23. khansa azzura

    April 24, 2013 at 3:41 pm

    sebelumnya saya bisa dibilang termasuk kader pks, aktif ikut berbagai agenda2 yg mereka adakan dan tentunya ikut liqo yg merupakan harga mati bagi kader pks..
    tapi makin ke sini saya makin sadar bahwa yg selama ini saya perjuangkan bukanlah agama Allah, tetapi sebuah golongan..
    akhirnya saya memutuskan untuk keluar..
    semoga Allah berkenan memberikan hidayahnya kepada kita semua..

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: