RSS

ADA APA ANTARA IKHWANUL MUSLIMIN DENGAN SYI’AH?

03 Jan

Oleh Ustadz Abdullah Taslim, Lc.

Salah satu di antara pemikiran yang sangat menyimpang yang ada pada IM (al-Ikhwan al-Muslimun) adalah apa yang mereka namakan dengan dengan “At Taqriib Bainal Mazdaahibil Islaamiyyah (pendekatan antara berbagai kelompok/aliran dalam islam)”, bagaimanapun sesat dan menyimpangnya kelompok tersebut, salah satu di antara kelompok yang mereka ingin dekatkan adalah kelompok Syi’ah (Raafidhah) yang populer dengan segudang pemahaman sesat bahkan kufur – wal’iyaadzu billaah – yang mereka sebutkan dalam kitab-kitab mereka sendiri, seperti pengkafiran mereka terhadap mayoritas Sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam – radiallahu ‘anhum -, keyakinan mereka bahwa kitab suci Al Quran yang ada saat ini sudah berubah dan tidak murni lagi, tuduhan keji dan dusta mereka terhadap istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang suci, ‘Aisyah radiallahu ‘anha, pengkultusan mereka yang berlebihan terhadap imam-imam mereka, yang bahkan sampai pada tingkatan meyakini adanya sifat-sifat ketuhanan pada diri imam-imam tersebut, dan masih banyak pemahaman sesat dan kufur mereka lainnya.

Di antara bukti nyata yang menunjukkan sikap IM di atas adalah pujian, dukungan dan pembelaan mereka terhadap kelompok Syi’ah, termasuk dukungan terhadap revolusi Syi’ah di Iran, pertemuan persahabatan dengan tokoh-tokoh mereka, yang akan terlihat jelas dalam nukilan-nukilan yang akan kami bawakan sebagai berikut:

1. Mursyid (pimpinan) umum IM yang ke-3, ‘Umar At Tilmisaany dalam kitabnya “Dzikrayaat laa mudzakkiraat” (hal. 249-250, cet. Daarul I’tishaam, thn 1985 M) menukil ucapan Hasan Al Banna -semoga Allah mengampuninya- tentang Syi’ah, dia berkata:

“Syi’ah adalah kelompok yang kurang lebih (bisa) disamakan dengan apa yang ada di antara mazhab yang empat di kalangan Ahlus Sunnah… (memang) ada perbedaan (antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah) tapi mungkin untuk dihilangkan, seperti: nikah mut’ah, jumlah istri (maksimal) bagi seorang (laki-laki) muslim – yang ada pada sebagian sekte Syi’ah –, dan yang semisalnya, yang mana perbedaan ini seharusnya tidak menjadi sebab pemutusan hubungan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah. Sungguh dua kelompok ini telah berjalan beriringan sejak ratusan tahun (yang lalu), tanpa ada saling bersinggungan di antara keduanya, kecuali (hanya sebatas) dalam tulisan-tulisan saja. Dan untuk diketahui, sesungguhnya tokoh-tokoh besar Syi’ah telah meninggalkan kepustakaan islam sebagai perbendaharaan yang selalu memenuhi perpustakaan-perpustakaan.”

2. Dalam kitab yang sama, At Tilmisaany berkata:

“Sekitar tahun 40-an – seingatku – yang mulia Al Qummy (salah seorang tokoh Syi’ah) pernah singgah sebagai tamu IM di markas besar IM, pada waktu sang Imam (Hasan Al Banna) sedang giat-giatnya mengusahakan pendekatan antara kelompok-kelompok, (dengan tujuan) agar musuh-musuh islam tidak menjadikan perselisihan antara kelompok-kelompok ini sebagai celah untuk memecah belah persatuan islam. Suatu hari kami pernah bertanya kepada beliau (Hasan Al Banna) tentang seberapa jauh perbedaan antara Ahlus Sunnah dan Syi’ah, maka beliau melarang kami membicarakan masalah-masalah pelik seperti ini, yang tidak pantas bagi kaum muslimin untuk menyibukkan diri dengannya, sementara kaum muslimin – seperti yang anda saksikan – saling berpecah dan musuh-musuh islam berusaha untuk semakin menyulut perpecahan tersebut, maka kami katakan kepada beliau: kami bertanya tentang hal ini bukan untuk bersikap fanatik atau untuk memperluas jurang perbedaan di antara kaum muslimin, akan tetapi kami bertanya untuk pengetahuan, karena (perbedaan) antara Sunnah dan Syi’ah disebutkan dalam tulisan-tulisan yang sangat banyak jumlahnya, dan kami tidak punya waktu yang cukup untuk memungkinkan kami membahas (masalah ini) dalam referensi-referensi tersebut, maka beliau menjawab: ‘Ketahuilah, sesungguhnya Ahlus Sunnah dan Syi’ah (semuanya) adalah kaum muslimin yang disatukan dengan kalimat Laa ilaaha illallah (tidak ada sembahan yang benar kecuali Allah Subhanahu wa Ta’ala) dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah utusan Allah Jalla Jalaaluhu, inilah landasan akidah yang sama-sama ada pada Sunnah dan Syi’ah, dan di atas kesucian, adapun perbedaan di antara keduanya, maka hal itu (hanya) dalam perkara-perkara yang mungkin untuk didekatkan.’”

3. Dalam kitab “Mauqifu ‘Ulamaa-il Muslimiin Minasy Syii’ati wats Tsauratil Islaamiyyah”, yang ditulis oleh salah seorang tokoh IM, Dr. ‘Izzuddiin Ibrahim (hal. 13, cet. Sabhar, Teheran, Iran, cet. ke-2 thn 1406 H), penulis tersebut berkata:

“Di masa sekarang ini terbentuklah “Jamaa’atut Taqriib bainal Madzaahibil Islaamiyyah (kelompok yang bertujuan ingin mendekatkan/menyatukan aliran-aliran dalam islam)”, yang ikut berpartisipasi di dalamnya Imam Hasan Al Banna…, berkata Ustadz Salim Al Bahansaawy – salah seorang cendekiawan IM – dalam kitabnya “As Sunnatu al Muftara ‘Alaiha” (hal. 58): ‘Sejak terbentuknya “Jamaa’atut Taqriib bainal Madzaahibil Islaamiyyah (kelompok yang bertujuan ingin mendekatkan/menyatukan aliran-aliran dalam islam)”, yang ikut memberikan andil di dalamnya Imam Al Banna dan Imam Al Qummy (tokoh Syi’ah), dan saling kerjasama terus berjalan antara IM dan Syi’ah, yang hal ini menjadi sebab kunjungan Imam Nawwab Shafawy (tokoh Syi’ah) ke Kairo thn 1954 M.’ Di halaman yang sama dia berkata: ‘Tidak ada yang aneh dalam sikap saling kerjasama tersebut, karena prinsip-prinsip yang ada pada kedua kelompok inilah (IM dan Syi’ah) yang melahirkan sikap saling kerjasama tersebut.’”

4. ‘Umar At Tilmisaany dalam kitabnya “Al Mulhamul Mauhuub Hasan Al Banna Ustaadzul Jiil” (hal. 78, cet. Daarut Tauzii’ wan Nasyril Islaamiyyah) berkata:

“…Untuk tujuan mempersatukan kelompok-kelompok inilah Hasan Al Banna pernah menjamu Syaikh yang mulia Muhammad Al Qummy – salah seorang tokoh besar dan pentolan Syi’ah – di markas besar IM dalam waktu yang cukup lama, sebagaimana juga diketahui bahwa Imam Al Banna telah menemui seorang tokoh rujukan Syi’ah, Aayatullah Al Kaasyaany di sela-sela pelaksanaan ibadah haji tahun 1948 M, yang (pertemuan tersebut) menghasilkan kesesuaian paham antara keduanya, (sebagaimana hal ini) diisyaratkan oleh salah seorang figur IM saat ini yang sekaligus murid Imam Hasan Al Banna, yaitu Ustadz ‘Abdul Muta’aal Al Jabry dalam kitabnya “Limaadza Ugtiila Hasan Al Banna”…”

5. Berkata salah seorang tokoh IM yang terkenal, Muhammad Al Gazaaly -semoga Allah menunjukinya- dalam kitabnya “Difaa’un ‘Anil ‘Aqiidati wasy Syarii’ati Dhiddu Mathaa’inil Mustasyrikiin” (sebagaimana yang dinukil oleh tokoh IM lainnya, Dr. ‘Izzuddiin Ibrahim dalam kitabnya “Mauqifu ‘Ulamaa-il Muslimiin Minasy Syii’ati wats Tsauratil Islaamiyyah” (hal. 22):

“Sesungguhnya jarak perbedaan antara Syi’ah dan Sunnah adalah seperti jarak perbedaan antara mazhab fikih Abu Hanifah, mazhab fikih Malik, mazhab fikih Syafi’i… kami memandang semuanya sama dalam mencari hakikat (kebenaran) meskipun caranya berbeda-beda.”

6. Dalam kitab di atas (hal. 15) Dr. ‘Izzuddiin Ibrahim menukil keterangan dari tokoh IM lainnya, Dr. Ishak Musa Al Husainy dalam kitabnya “Al Ikhwaanul Muslimuun Kubral Harakaatil Islaamiyyatil Haditsah” bahwa sebagian mahasiswa dari kalangan Syi’ah yang dulunya pernah belajar di Mesir telah bergabung dalam kelompok IM, sebagaimana barisan kelompok IM di Irak beranggotakan banyak orang dari kalangan Syi’ah “Al Imaamiyyah Al Itsnai ‘Asyariyyah.”

7. Dukungan dan pujian tokoh-tokoh IM terhadap revolusi Syi’ah di Iran, yang terlalu panjang untuk kami nukilkan dalam tulisan ini, lihat kitab “Mauqifu ‘Ulamaa-il Muslimiin Minasy Syii’ati wats Tsauratil Islaamiyyah”, yang ditulis oleh salah seorang tokoh IM, Dr. ‘Izzuddiin Ibrahim (hal. 44-50).

Dan masih banyak ucapan dan sikap IM lainnya terhadap Syi’ah dan kelompok-kelompok sesat lainnya yang karena khawatir tulisan ini menjadi terlalu panjang sehingga tidak kami nukilkan semuanya.

[Dinukil dari artikel ‘Menyingkap Hakikat al-Ikhwan al-Muslimun’, bagi anda yang ingin lebih lengkap menelaah hal ini silakan mendownload e-booknya di link http://www.pakdenono.com/home.htm?password=123%5D

Iklan
 
8 Komentar

Ditulis oleh pada Januari 3, 2009 in Pemurnian Ajaran

 

Tag: , , ,

8 responses to “ADA APA ANTARA IKHWANUL MUSLIMIN DENGAN SYI’AH?

  1. sekarwangi

    Januari 4, 2009 at 4:20 am

    Assalammu’alaikum
    ummm syahadatnya syi’ah itu sama ndak ya pak dengan syahadat kita, kalau ndak salah temen saya dulu pernah bilang, katanya kalau mereka itu syahadatnya ndak dengan nabi muhammad, tapi Ali, kebetulan temen saya itu syi’ah juga, trus cara sholatnya sama ndak pak ya

     
  2. Ari Wahyudi

    Januari 7, 2009 at 11:09 pm

    wa’alaaikumussalamwarahmatullah, maaf saya sampai saat ini belum bisa menjawab secara detail, untuk lebih jelasnya silakan baca buku ‘Mungkinkah Syi’ah dan Sunnah bersatu?’ karya Syaikh Muhibudin al-Khatib rahimahullah. Namun yang jelas, Syi’ah telah mencoreng nama baik para sahabat. Padahal, Imam Abu Zur’ah rahimahullah dahulu mengatakan, “Apabila kamu melihat ada orang yang mendiskreditkan salah satu sahabat maka ketahuilah bahwa dia adalah zindiq.” Lalu bagaimana lagi dengan Syi’ah yang telah menghina -bahkan mengkafirkan- Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma, sementara mereka adalah manusia2 yang telah dijamin masuk surga bahkan manusia2 terbaik sesudah para Nabi. Maka mustahil terjadi antara Sunni dengan Syi’ah kecuali apabila air dan api bisa bersatu.. Caranya bersatu adalah dengan bertaubatnya kaum Syi’ah ke jalan Ahlus Sunnah. “Barangsiapa yang bertaubat, beriman dan beramal salih maka mereka itulah orang2 yang akan diganti kejelekan mereka dengan kebaikan-kebaikan.” (QS. al-Furqan). Wallahu a’lam.

     
  3. sayyid

    Januari 11, 2009 at 6:20 am

    tidak masuk akal… sangat suspicious

     
  4. Ari Wahyudi

    Januari 12, 2009 at 10:51 am

    Memang tidak masuk akal, tapi itulah kenyataan yang membuat hati kita sedih dan prihatin melihat saudara kita salah jalan. Semoga orang lain tidak mengikuti kesalahan mereka. Kita tidak mencurigai sesama muslim, namun pada kenyataannya mereka sendiri lah yang menunjukkan kepada kita tentang hakikat dakwah mereka. Orang yang berakal adalah yang mengerti hakikat dirinya sendiri dan tidak tertipu oleh pujian orang yang tidak paham tentang dirinya, Allahul musta’an.

     
  5. harlan fauzan ali

    Mei 7, 2009 at 1:27 pm

    Apa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah ?

    Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Safi’i dengan Madzhab Maliki.

    Karenanya dengan adanya ribut-ribut masalah Sunni dengan Syiah, mereka berpendapat agar perbedaan pendapat tersebut tidak perlu dibesar-besarkan. Selanjutnya mereka berharap, apabila antara NU dengan Muhammadiyah sekarang bisa diadakan pendekatan-pendekatan demi Ukhuwah Islamiyah, lalu mengapa antara Syiah dan Sunni tidak dilakukan ?

    Oleh karena itu, disaat Muslimin bangun melawan serangan Syiah, mereka menjadi penonton dan tidak ikut berkiprah.

    Apa yang mereka harapkan tersebut, tidak lain dikarenakan minimnya pengetahuan mereka mengenai aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sehingga apa yang mereka sampaikan hanya terbatas pada apa yang mereka ketahui.

    Semua itu dikarenakan kurangnya informasi pada mereka, akan hakikat ajaran Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Disamping kebiasaan berkomentar, sebelum memahami persoalan yang sebenarnya.

    Sedangkan apa yang mereka kuasai, hanya bersumber dari tokoh-tokoh Syiah yang sering berkata bahwa perbedaan Sunni dengan Syiah seperti perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzahab Syafi’i.

    Padahal perbedaan antara Madzhab Maliki dengan Madzhab Syafi’i, hanya dalam masalah Furu’iyah saja. Sedang perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah), maka perbedaan-perbedaannya disamping dalam Furuu’ juga dalam Ushuul.

    Rukun Iman mereka berbeda dengan rukun Iman kita, rukun Islamnya juga berbeda, begitu pula kitab-kitab hadistnya juga berbeda, bahkan sesuai pengakuan sebagian besar ulama-ulama Syiah, bahwa Al-Qur’an mereka juga berbeda dengan Al-Qur’an kita (Ahlussunnah).

    Apabila ada dari ulama mereka yang pura-pura (taqiyah) mengatakan bahwa Al-Qur’annya sama, maka dalam menafsirkan ayat-ayatnya sangat berbeda dan berlainan.

    Sehingga tepatlah apabila ulama-ulama Ahlussunnah Waljamaah mengatakan : Bahwa Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) adalah satu agama tersendiri.

    Melihat pentingnya persoalan tersebut, maka di bawah ini kami nukilkan sebagian dari perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dengan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah).

    1. Ahlussunnah : Rukun Islam kita ada 5 (lima)
    a) Syahadatain
    b) As-Sholah
    c) As-Shoum
    d) Az-Zakah
    e) Al-Haj

    Syiah : Rukun Islam Syiah juga ada 5 (lima) tapi berbeda:
    a) As-Sholah
    b) As-Shoum
    c) Az-Zakah
    d) Al-Haj
    e) Al wilayah

    2. Ahlussunnah : Rukun Iman ada 6 (enam) :
    a) Iman kepada Allah
    b) Iman kepada Malaikat-malaikat Nya
    c) Iman kepada Kitab-kitab Nya
    d) Iman kepada Rasul Nya
    e) Iman kepada Yaumil Akhir / hari kiamat
    f) Iman kepada Qadar, baik-buruknya dari Allah.

    Syiah : Rukun Iman Syiah ada 5 (lima)*
    a) At-Tauhid
    b) An Nubuwwah
    c) Al Imamah
    d) Al Adlu
    e) Al Ma’ad

    3. Ahlussunnah : Dua kalimat syahadat

    Syiah : Tiga kalimat syahadat, disamping Asyhadu an Laailaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, masih ditambah dengan menyebut dua belas imam-imam mereka.

    4. Ahlussunnah : Percaya kepada imam-imam tidak termasuk rukun iman. Adapun jumlah imam-imam Ahlussunnah tidak terbatas. Selalu timbul imam-imam, sampai hari kiamat.
    Karenanya membatasi imam-imam hanya dua belas (12) atau jumlah tertentu, tidak dibenarkan.

    Syiah : Percaya kepada dua belas imam-imam mereka, termasuk rukun iman. Karenanya orang-orang yang tidak beriman kepada dua belas imam-imam mereka (seperti orang-orang Sunni), maka menurut ajaran Syiah dianggap kafir dan akan masuk neraka.

    5. Ahlussunnah : Khulafaurrosyidin yang diakui (sah) adalah :
    a) Abu Bakar
    b) Umar
    c) Utsman
    d) Ali Radhiallahu anhu

    Syiah : Ketiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, Utsman) tidak diakui oleh Syiah. Karena dianggap telah merampas kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (padahal Imam Ali sendiri membai’at dan mengakui kekhalifahan mereka).

    6. Ahlussunnah : Khalifah (Imam) adalah manusia biasa, yang tidak mempunyai sifat Ma’shum.
    Berarti mereka dapat berbuat salah/ dosa/ lupa. Karena sifat Ma’shum, hanya dimiliki oleh para Nabi.

    Syiah : Para imam yang jumlahnya dua belas tersebut mempunyai sifat Ma’’hum, seperti para Nabi.

    7. Ahlussunnah : Dilarang mencaci-maki para sahabat.

    Syiah : Mencaci-maki para sahabat tidak apa-apa bahkan Syiah berkeyakinan, bahwa para sahabat setelah Rasulullah SAW wafat, mereka menjadi murtad dan tinggal beberapa orang saja. Alasannya karena para sahabat membai’at Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah.

    8. Ahlussunnah : Siti Aisyah istri Rasulullah sangat dihormati dan dicintai. Beliau adalah Ummul Mu’minin.

    Syiah : Siti Aisyah dicaci-maki, difitnah, bahkan dikafirkan.

    9. Ahlussunnah : Kitab-kitab hadits yang dipakai sandaran dan rujukan Ahlussunnah adalah Kutubussittah :
    a) Bukhari
    b) Muslim
    c) Abu Daud
    d) Turmudzi
    e) Ibnu Majah
    f) An Nasa’i
    (kitab-kitab tersebut beredar dimana-mana dan dibaca oleh kaum Muslimin sedunia).

    Syiah : Kitab-kitab Syiah ada empat :
    a) Al Kaafi
    b) Al Istibshor
    c) Man Laa Yah Dhuruhu Al Faqih
    d) Att Tahdziib
    (Kitab-kitab tersebut tidak beredar, sebab kebohongannya takut diketahui oleh pengikut-pengikut Syiah).

    10. Ahlussunnah : Al-Qur’an tetap orisinil

    Syiah : Al-Qur’an yang ada sekarang ini menurut pengakuan ulama Syiah tidak orisinil. Sudah dirubah oleh para sahabat (dikurangi dan ditambah).

    11. Ahlussunnah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul Nya.
    Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang tidak taat kepada Allah dan Rasul Nya.

    Syiah : Surga diperuntukkan bagi orang-orang yang cinta kepada Imam Ali, walaupun orang tersebut tidak taat kepada Rasulullah.
    Neraka diperuntukkan bagi orang-orang yang memusuhi Imam Ali, walaupun orang tersebut taat kepada Rasulullah.

    12. Ahlussunnah : Aqidah Raj’Ah tidak ada dalam ajaran Ahlussunnah. Raj’ah adalah besok diakhir zaman sebelum kiamat, manusia akan hidup kembali. Dimana saat itu Ahlul Bait akan balas dendam kepada musuh-musuhnya.

    Syiah : Raj’ah adalah salah satu aqidah Syiah. Dimana diceritakan : bahwa nanti diakhir zaman, Imam Mahdi akan keluar dari persembunyiannya. Kemudian dia pergi ke Madinah untuk membangunkan Rasulullah, Imam Ali, Siti Fatimah serta Ahlul Bait yang lain.

    Setelah mereka semuanya bai’at kepadanya, diapun selanjutnya membangunkan Abu Bakar, Umar, Aisyah. Kemudian ketiga orang tersebut disiksa dan disalib, sampai mati seterusnya diulang-ulang sampai ribuan kali. Sebagai balasan atas perbuatan jahat mereka kepada Ahlul Bait.
    Keterangan : Orang Syiah mempunyai Imam Mahdi sendiri. Berlainan dengan Imam Mahdinya Ahlussunnah, yang akan membawa keadilan dan kedamaian.

    13. Ahlussunnah : Mut’ah (kawin kontrak), sama dengan perbuatan zina dan hukumnya haram.

    Syiah : Mut’ah sangat dianjurkan dan hukumnya halal. Halalnya Mut’ah ini dipakai oleh golongan Syiah untuk mempengaruhi para pemuda agar masuk Syiah. Padahal haramnya Mut’ah juga berlaku di zaman Khalifah Ali bin Abi Thalib.

    14. Ahlussunnah : Khamer/ arak tidak suci.

    Syiah : Khamer/ arak suci.

    15. Ahlussunnah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap tidak suci.

    Syiah : Air yang telah dipakai istinja’ (cebok) dianggap suci dan mensucikan.

    16. Ahlussunnah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri hukumnya sunnah.

    Syiah : Diwaktu shalat meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri membatalkan shalat.
    (jadi shalatnya bangsa Indonesia yang diajarkan Wali Songo oleh orang-orang Syiah dihukum tidak sah/ batal, sebab meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri).

    17. Ahlussunnah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat adalah sunnah.

    Syiah : Mengucapkan Amin diakhir surat Al-Fatihah dalam shalat dianggap tidak sah/ batal shalatnya.
    (Jadi shalatnya Muslimin di seluruh dunia dianggap tidak sah, karena mengucapkan Amin dalam shalatnya).

    18. Ahlussunnah : Shalat jama’ diperbolehkan bagi orang yang bepergian dan bagi orang yang mempunyai udzur syar’i.

    Syiah : Shalat jama’ diperbolehkan walaupun tanpa alasan apapun.

    19. Ahlussunnah : Shalat Dhuha disunnahkan.

    Syiah : Shalat Dhuha tidak dibenarkan.
    (padahal semua Auliya’ dan salihin melakukan shalat Dhuha).

    Demikian telah kami nukilkan perbedaan-perbedaan antara aqidah Ahlussunnah Waljamaah dan aqidah Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah). Sengaja kami nukil sedikit saja, sebab apabila kami nukil seluruhnya, maka akan memenuhi halaman-halaman buku ini.

    Harapan kami semoga pembaca dapat memahami benar-benar perbedaan-perbedaan tersebut. Selanjutnya pembaca yang mengambil keputusan (sikap).

    Masihkah mereka akan dipertahankan sebagai Muslimin dan Mukminin ? (walaupun dengan Muslimin berbeda segalanya).

    Sebenarnya yang terpenting dari keterangan-keterangan diatas adalah agar masyarakat memahami benar-benar, bahwa perbedaan yang ada antara Ahlussunnah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah (Ja’fariyah) itu, disamping dalam Furuu’ (cabang-cabang agama) juga dalam Ushuul (pokok/ dasar agama).

    Apabila tokoh-tokoh Syiah sering mengaburkan perbedaan-perbedaan tersebut, serta memberikan keterangan yang tidak sebenarnya, maka hal tersebut dapat kita maklumi, sebab mereka itu sudah memahami benar-benar, bahwa Muslimin Indonesia tidak akan terpengaruh atau tertarik pada Syiah, terkecuali apabila disesatkan (ditipu).

    Oleh karena itu, sebagian besar orang-orang yang masuk Syiah adalah orang-orang yang tersesat, yang tertipu oleh bujuk rayu tokoh-tokoh Syiah.

    Akhirnya, setelah kami menyampaikan perbedaan-perbedaan antara Ahlussunnah dengan Syiah, maka dalam kesempatan ini kami menghimbau kepada Alim Ulama serta para tokoh masyarakat, untuk selalu memberikan penerangan kepada umat Islam mengenai kesesatan ajaran Syiah. Begitu pula untuk selalu menggalang persatuan sesama Ahlussunnah dalam menghadapi rongrongan yang datangnya dari golongan Syiah. Serta lebih waspada dalam memantau gerakan Syiah didaerahnya. Sehingga bahaya yang selalu mengancam persatuan dan kesatuan bangsa kita dapat teratasi.

    Selanjutnya kami mengharap dari aparat pemerintahan untuk lebih peka dalam menangani masalah Syiah di Indonesia. Sebab bagaimanapun, kita tidak menghendaki apa yang sudah mereka lakukan, baik di dalam negri maupun di luar negri, terulang di negara kita.

    Semoga Allah selalu melindungi kita dari penyesatan orang-orang Syiah dan aqidahnya. Amin.

    Keterangan lebih lanjut tentang kesesatan syiah klik :
    http:/ban-syiah.blogspot.com/

     
  6. izzat

    Juli 4, 2009 at 8:36 pm

    Assalamu’alaikum.

    Saya pribadi berseberangan dg penganut syiah yg men jelek2kan dan mendoakan yg jelek kepada sahabat r.a. (kecuali Ali r.a.).

    Tetapi saya juga berdekatan hati dg sikap kaum syiah yg berani melawan musuh Islam, yaitu Yahuid dan sekutu2nya.

    Pertanyaannya, SIAPAKAH yg paling benar? ahlus sunah ataukah syiah yg benar2 i’tiba’ / mengikuti nabi Mukhammad s.a.w.?.

    Coba kita renungkan, kenapa jumlah ahlus sunah yg lebih bayak dibanding syiah masih saja takut pada amerika dan israel?

    Kenapa ahlus sunah (negara2 arab saudi, mesir, Indonesia yg banyak ahlus sunahnya) diam saja dg tekanan “mereka” terhadap orang2 Islam di seluruh dunia?. Mana ukuwah Islamiyahnya yg mengaku THE REAL AHLUS SUNAH ? kepada saudara2 kita di belahan dunia yg di habisi dan di teror itu?

    MOHON DI JAWAB !!!! atau kirim email ke saya. Saya pribadi kecewa dg orang / negara yg mengaku ahlus sunah.

    Jadi saya memahami apabila ada beberapa orang yg ingin mempersatukan Islam dg keadaan seperti ini. Jadi mohon yg arif untuk menyikapi perihal ihwanul muslimin dan org2 lain yg ingin juga Islam bersatu.

    Wa’alaikum salam.

     
  7. gus

    Juli 4, 2009 at 8:48 pm

    hmm…

     
  8. Ari Wahyudi

    Juli 5, 2009 at 6:03 am

    Wa’alaikumussalamwarahmatullah, mungkin saudara belum mengenal kebusukan syi’ah. Silakan baca tulisan Syaikh Muhibbuddin al-Khathib yang berjudul Mungkinkah Syi’ah dan Sunnah bersatu? Ahlus Sunnah bukanlah orang yang suka menggembar-gemborkan amalnya. Anda mungkin perlu meneliti dan menyadari bahwa sesungguhnya biang kekalahan kaum muslimin adalah dengan keberadaan kaum Syi’ah. Silakan baca lebih lanjut di situs hakekat.com.

     

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: