RSS

Menyambut Datangnya Bulan Penuh Berkah

30 Jun
Menyambut Datangnya Bulan Penuh Berkah

images

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila telah masuk Ramadhan dibukalah pintu-pintu surga, dikunci pintu-pintu neraka Jahannam, dan dirantai setan-setan.” (Muttafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Telah datang kepada kalian Ramadhan, suatu bulan yang penuh dengan berkah. Allah mewajibkan kepada kalian untuk berpuasa di bulan itu. Pada bulan itu pintu-pintu langit dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup. Pada bulan itu setan-setan yang bandel pun dibelenggu. Pada bulan itu Allah memiliki suatu malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Barangsiapa yang terhalang dari kebaikannya maka sungguh dia telah terhalang dari kebaikan.” (HR. Ahmad dan an-Nasa’i, hadits dinyatakan jayyid oleh Syaikh al-Albani dalam al-Misykat)

Satu Dua Hari Menjelang Ramadhan

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya. Kecuali bagi orang yang sedang menjalani puasa tertentu maka silahkan dia melakukan puasa pada saat itu.” (Muttafaq ‘alaih)

Hadits ini menunjukkan tidak bolehnya melakukan puasa satu hari atau dua hari sebelum Ramadhan dengan alasan untuk kehati-hatian. Dibolehkan puasa pada hari-hari itu hanya bagi orang yang punya kebiasaan puasa sunnah -misal senin kamis atau puasa Dawud- kemudian bertepatan dengan hari itu atau bagi orang yang punya hutang puasa Ramadhan atau punya nadzar puasa (lihat al-Fiqh al-Muyassar, hal. 166)

Syaikh Abdullah al-Bassam rahimahullah menjelaskan bahwa larangan dalam hadits ini secara lahiriyah mengandung makna pengharaman, meskipun demikian sebagian ulama berpendapat bahwa hukumnya adalah makruh. Salah satu hikmah larangan ini adalah larangan sikap tanaththu’/berlebih-lebihan dalam beragama dan larangan dari melampaui batas-batas ketentuan yang telah diwajibkan oleh Allah ta’ala. Adapun bagi orang yang memiliki hutang puasa Ramadhan atau puasa nadzar maka pada saat itu berpuasa bukan lagi keringanan baginya akan tetapi menjadi sebuah kewajiban. Oleh sebab itu dia wajib untuk berpuasa, karena menunaikan kewajiban lebih diutamakan daripada meninggalkan sesuatu yang makruh (lihat Taudhih al-Ahkam [3/442] cet. Maktabah al-Aidi)

Ibnu Hajar rahimahullah menjelaskan bahwa hadits ini mengandung bantahan bagi orang yang berpendapat bolehnya mendahulukan puasa sebelum ru’yah semacam kaum Rafidhah/Syi’ah. Selain itu, ia juga mengandung bantahan bagi orang yang membolehkan puasa sunnah mutlaq (puasa sunnah tanpa sebab tertentu) pada hari-hari tersebut (lihat Fath al-Bari [4/151] cet. Dar al-Hadits)

Menentukan Masuknya Bulan Ramadhan Dengan Melihat Hilal

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila kalian melihatnya [hilal Ramadhan] maka berpuasalah, dan apabila kalian melihatnya [hilal Syawwal] maka berharirayalah. Apabila ia tertutup mendung atas kalian maka kira-kirakanlah.” (Muttafaq ‘alaih)

Imam al-Maziri rahimahullah berkata, “Mayoritas fuqoha’/ahli fikih menafsirkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam “maka kira-kirakanlah” dengan maksud menyempurnakan bilangan menjadi tiga puluh hari sebagaimana ditafsirkan dalam hadits yang lain. Mereka mengatakan, “Tidak boleh dimaknakan bahwa yang dimaksud adalah dengan menggunakan hisab/perhitungan para ahli perbintangan. Karena seandainya umat manusia dibebani dengan cara itu niscaya akan menyulitkan bagi mereka, sebab tidak ada yang mengetahuinya kecuali beberapa gelintir orang saja. Padahal, syari’at itu diperkenalkan kepada umat manusia hanya melalui hal-hal yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang diantara mereka, wallahu a’lam.” (lihat Syarh Muslim [4/415])

Imam Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Mereka (jumhur ulama) mengatakan: maksud sabda beliau “kira-kirakanlah” artinya perhatikanlah pada awal bulan dan hitung bulan itu sempurna menjadi tiga puluh hari. Penafsiran ini diperkuat oleh riwayat-riwayat lain yang secara tegas menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah sebagaimana keterangan dalam sabda beliau, “maka sempurnakanlah bilangannya menjadi tiga puluh hari” atau riwayat lain yang serupa. Dan cara paling tepat dalam menafsirkan suatu hadits adalah dengan melihat kepada hadits pula.” (lihat Fath al-Bari [4/142])

Apabila Hilal Tidak Tampak Karena Tertutup Awan Atau Semacamnya

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Berpuasalah ketika sudah melihatnya [hilal Ramadhan] dan berharirayalah ketika sudah melihatnya [hilal Syawwal]. Apabila ia terhalang dari pandangan kalian karena asap/awan, sempurnakanlah bilangan Sya’ban menjadi tiga puluh.” (Muttafaq ‘alaih)

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Berdasarkan hadits-hadits ini jelaslah bahwasanya tidak boleh dilakukan puasa Ramadhan sebelum tampaknya hilal. Apabila hilal belum terlihat maka bulan Sya’ban disempurnakan menjadi tiga puluh hari. Dan tidak boleh dilakukan puasa pada tanggal tiga puluhnya, sama saja apakah malamnya langit cerah ataupun mendung. Hal ini berdasarkan ucapan ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhu, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan maka sesungguhnya dia telah durhaka kepada Abul Qasim shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Nasa’i, Bukhari juga menyebutkannya secara mu’allaq/tanpa sanad).” (lihat Majalis Syahri Ramadhan, hal. 17 cet. Dar al-‘Aqidah)

Tidak Boleh Puasa Pada Hari Yang Diragukan

Dari ‘Ammar bin Yasir radhiyallahu’anhuma, beliau berkata, “Barangsiapa yang berpuasa pada hari yang diragukan -yaitu tanggal 30 Sya’ban saat malam harinya tertutup mendung, pent- maka dia telah durhaka kepada Abul Qasim [Nabi] shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, Tirmidzi berkata ‘hadits hasan sahih’)

Imam Tirmidzi rahimahullah berkata, “Inilah yang diamalkan oleh kebanyakan para ulama dari kalangan Sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para tabi’in sesudah mereka. Pendapat ini pula yang dipegang oleh Sufyan ats-Tsauri, Malik bin Anas, Abdullah bin al-Mubarak, asy-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Mereka membenci apabila seseorang berpuasa pada hari yang diragukan…” (lihat Sunan at-Tirmidzi, hal. 172).

Ibnu Hajar rahimahullah berkata, “Hadits ini merupakan dalil yang menunjukkan diharamkannya berpuasa pada hari yang diragukan, karena seorang Sahabat tidak mungkin mengucapkan hal itu semata-mata berdasarkan hasil pemikirannya, oleh sebab itu hadits ini dihukumi marfu’/sebagaimana sabda nabi.” (lihat Fath al-Bari [4/141]).

Berpuasa dan Berhari Raya Bersama Pemerintah

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Puasa adalah hari di saat kalian bersama-sama puasa, sedangkan hari raya adalah di saat kalian berhari raya, dan idul adha adalah hari tatkala kalian menyembelih kurban.” (HR. Tirmidzi disahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Imam Tirmidzi mengatakan, “Sebagian ulama menafsirkan bahwa maksud hadits ini adalah bahwasanya puasa dan hari raya itu mengikuti jama’ah (pemerintah) dan kebanyakan orang.” (lihat Sunan at-Tirmidzi, hal. 174)

Dari al-‘Aizar, dia menceritakan: Aku datang kepada Ibrahim pada hari yang diragukan. Maka dia berkata, “Barangkali kamu sedang puasa. Jangan puasa kecuali bersama jama’ah (masyarakat dan pemerintah, pent).” (HR. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushannaf [9585])

Dari Ja’far bin Sulaiman, dari Habib bin asy-Syahid, bahwa Muhammad bin Sirin berkata, “Sungguh, aku berbuka sehari di bulan Ramadhan dalam keadaan tidak sengaja lebih aku sukai daripada aku harus berpuasa pada hari yang diragukan pada bulan Sya’ban.” Ja’far mengatakan: Asma’ bin ‘Ubaid mengabarkan kepadaku. Dia berkata: Kami datang kepada Muhammad bin Sirin pada hari yang diragukan. Kami pun berkata, “Apa yang harus kami lakukan?”. Maka beliau berkata kepada pembantunya, “Pergilah, coba lihat apakah amir (penguasa) berpuasa atau tidak?”. Dia berkata: Pada saat itu yang menjadi amir adalah Adi bin Arthah. Kemudian dia kembali dan melapor, “Aku menjumpai beliau tidak berpuasa.” Asma’ berkata, “Muhammad (Ibnu Sirin) meminta makanannya dihidangkan lalu dia pun makan dan kami ikut makan bersamanya.” (HR. Abdurrazzaq dalam Mushannaf)

About these ads
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juni 30, 2013 in Dakwah, Hukum

 

Tag: , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.205 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: